Gen Z Ramai-ramai Daftar Koperasi Desa, Peluang Bangun Ekonomi atau Tren?

Gen Z Ramai-ramai Daftar Koperasi Desa, Peluang Bangun Ekonomi atau Tren?

Nanda M Marbun - detikSumut
Rabu, 13 Mei 2026 02:01 WIB
Ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih
Koperasi Merah Putih (Foto: Dok Laman Desa Pesahangan)
Medan -

Antusiasme generasi muda mengikuti rekrutmen manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih menjadi sorotan. Berdasarkan data pemerintah, jumlah pelamar program tersebut mencapai 639.732 orang hingga penutupan pendaftaran pada 24 April 2026.

Lonjakan pendaftar yang didominasi kalangan muda itu dinilai menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap peluang ekonomi baru di tengah ketatnya persaingan kerja. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan apakah fenomena tersebut benar-benar menjadi langkah membangun ekonomi desa atau hanya sebatas mengikuti tren sesaat.

Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Dr. Arif Rahman, menilai fenomena tersebut tidak sepenuhnya tepat jika dianggap sebagai euforia atau sekadar ikut-ikutan tren.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam melihat fenomena ratusan ribu Gen Z yang mendaftar koperasi desa, perlu ada penyesuaian cara pandang. Tidak sepenuhnya tepat jika ini dianggap sebagai euforia atau ikut-ikutan tren. Dalam banyak kasus, keputusan generasi muda untuk bergabung lebih didorong oleh motif ekonomi yang sangat rasional, yakni mencari sumber penghasilan," ujarnya kepada detikSumut, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, kondisi pasar kerja yang semakin kompetitif membuat program koperasi desa menjadi peluang yang menarik bagi generasi muda, terutama karena membuka ruang kerja dan aktivitas ekonomi secara masif.

ADVERTISEMENT

"Di tengah kondisi pasar kerja yang kompetitif, terutama dengan tingkat pengangguran muda yang relatif tinggi, kehadiran program koperasi desa yang membuka peluang secara masif menjadi magnet tersendiri. Bagi sebagian besar Gen Z, ini bukan soal idealisme koperasi atau semangat kolektif semata, tetapi tentang akses terhadap pekerjaan dan pendapatan yang tersedia saat ini," jelasnya.

Ia menilai lonjakan jumlah pendaftar lebih tepat dibaca sebagai respons terhadap peluang ekonomi dibanding fenomena sosial semata. Meski demikian, ia pun mengingatkan bahwa keberlanjutan keterlibatan generasi muda di koperasi akan sangat ditentukan oleh kemampuan koperasi dalam menciptakan manfaat ekonomi yang nyata.

"Artinya, lonjakan pendaftaran ini lebih tepat dibaca sebagai respons terhadap peluang kerja, bukan sekadar tren sosial," katanya. Ketika motivasi utama adalah mencari penghasilan, maka keberlanjutan keterlibatan mereka akan sangat bergantung pada satu hal, yaitu apakah koperasi tersebut benar-benar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang nyata," ungkapnya.

Ia menjelaskan, jika koperasi mampu membangun aktivitas usaha yang jelas, menghasilkan pendapatan yang layak, dan dikelola secara profesional, maka partisipasi anak muda akan bertahan bahkan berkembang.

"Jika koperasi mampu menciptakan arus usaha yang jelas, memberikan pendapatan yang layak, dan dikelola secara profesional, maka partisipasi Gen Z akan bertahan, bahkan berkembang. Sebaliknya, jika koperasi hanya berhenti pada tahap pembentukan tanpa aktivitas ekonomi yang kuat, maka anggota akan pasif, partisipasi menurun, bahkan bisa ditinggalkan," tuturnya.

Menurutnya, tantangan terbesar ke depan bukan lagi menarik masyarakat untuk bergabung, melainkan memastikan koperasi benar-benar hidup dan memberikan dampak ekonomi.

"Dalam konteks ini, tantangannya bergeser, bukan lagi bagaimana menarik orang untuk masuk, tetapi bagaimana menjaga agar mereka tetap bertahan karena ada manfaat ekonomi yang dirasakan. Koperasi tetaplah sebuah wadah atau instrumen ekonomi. Ia tidak otomatis menciptakan kesejahteraan tanpa aktivitas usaha yang produktif. Karena itu, pengelolaan yang profesional, pemilihan sektor usaha yang tepat, serta integrasi dengan potensi lokal menjadi kunci utama," jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti potensi gangguan terhadap pelaku usaha lokal jika koperasi tidak dirancang secara matang.

"Hal lain yang juga perlu diantisipasi adalah potensi disrupsi terhadap pelaku usaha lokal. Jika koperasi hadir tanpa desain yang matang, misalnya langsung masuk ke sektor perdagangan yang sudah dikuasai toko-toko kecil setempat, maka yang terjadi bukan penciptaan ekonomi baru, melainkan perebutan pasar," katanya.

Ia menegaskan koperasi desa seharusnya hadir untuk memperkuat rantai ekonomi lokal, bukan justru melemahkan usaha yang sudah ada.

"Oleh karena itu, koperasi desa seharusnya diarahkan untuk memperkuat rantai nilai atau value chain, bukan memotongnya. Membuka akses pasar baru, bukan mengambil pasar lama. Menjadi agregator, bukan sekadar kompetitor," tegasnya.

Meski begitu, ia menilai fenomena tingginya minat Gen Z terhadap koperasi tetap menjadi sinyal positif bahwa generasi muda memiliki keinginan besar untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.

"Fenomena ini tetap menyimpan potensi besar. Antusiasme Gen Z menunjukkan bahwa ada kebutuhan nyata akan pekerjaan dan ruang berusaha. Namun keberhasilannya tidak ditentukan oleh jumlah pendaftar, melainkan oleh kemampuan koperasi tersebut untuk bertransformasi dari sekadar program menjadi entitas ekonomi yang benar-benar hidup," pungkasnya.

Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads