Sungai Cileungsi Menghitam Mirip Oli, Warga Keluhkan Bau Menyengat Tiap Hari

Nasional

Sungai Cileungsi Menghitam Mirip Oli, Warga Keluhkan Bau Menyengat Tiap Hari

Rizky Adha Mahendra - detikSumut
Rabu, 21 Okt 2026 08:31 WIB
Warga melihat kondisi Sungai CIleungsi berwarna hitam diduga tercemar limbah di Wanaherang, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyebut bahwa penyebab kembali menghitamnya aliran Sungai Cileungsi di wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor, ialah akibat sedimentasi limbah sejak lama, kondisi itu terlihat saat debit sungai berkurang ketika musim kemarau atau tidak turun hujan berhari-hari. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nz.
Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Jakarta -

Aliran Sungai Cileungsi di Desa Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berubah menjadi hitam pekat menyerupai oli. Warga berharap penyebab perubahan warna air sungai tersebut segera terungkap.

Berdasarkan pantauan pada Selasa (20/10/2026), air Sungai Cileungsi tampak menghitam di sekitar area aktivitas warga, termasuk kawasan permukiman. Sungai tersebut diketahui mengalir dari wilayah Bogor hingga Bekasi.

Selain perubahan warna air, aroma tidak sedap juga tercium dari sungai. Bau menyengat itu bercampur dengan aroma sampah yang menumpuk di sepanjang aliran sungai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga yang bermukim di sekitar sungai mengaku terganggu dengan bau tersebut, yang dirasakan setiap hari. Salah satunya Monita, warga yang rumahnya berjarak kurang dari 100 meter dari aliran Sungai Cileungsi.

Ia mengungkapkan, bau menyengat dari sungai kerap mengusik kenyamanannya dalam beraktivitas. Kondisi itu bahkan semakin terasa pada malam hari.

ADVERTISEMENT

"Kebetulan rumah saya jaraknya dengan sungai itu dekat ya, nggak nyampe 100 meter. Nah, dampak yang langsung yang saya rasakan itu memang bau yang sangat menyengat, dan itu setiap hari," kata dia, melansir detikNews.

Untuk mengurangi aroma tak sedap yang masuk ke dalam rumah, Monita mengaku terpaksa menutup pintu. Ia juga mengeluhkan kondisi udara yang tidak sesuai harapan ketika hendak menikmati udara segar pada pagi hari.

"Setiap buka pintu, niatnya pagi-pagi mau cari udara segar, yang ada langsung bau gitu ya. Dan itu semakin malam itu semakin menyengat," jelasnya.

Tak hanya mengganggu kenyamanan, bau tersebut juga membuat tenggorokannya terasa tidak nyaman. Monita merasakan sensasi gatal disertai dahak yang terus muncul.

"Nah, yang kedua memang akhirnya kerasa tidak nyaman di tenggorokan, karena bau yang terus-menerus menyengat akhirnya tenggorokan itu menjadi seperti gatal, terus penuh dengan dahak," tuturnya.

Ia menuturkan, keluhan tersebut muncul meski dirinya tidak sedang mengalami radang, influenza, maupun batuk. Monita pun menduga kondisi itu berkaitan dengan pencemaran yang terjadi di Sungai Cileungsi.

"Padahal kondisi tidak sedang radang, tidak sedang influenza, tidak sedang batuk, tapi dahak itu selalu ada gitu ya. Nah, saya curiganya ya itu efek langsung dari pencemaran polusi di Sungai Cileungsi itu ya," sambung Monita.

Artikel ini sudah tayang di detikNews, baca selengkapnya di sini.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads