Berlari, bersepeda, hingga bermain bola menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran. Namun, saat kualitas udara memburuk akibat polusi atau kabut asap, apakah aktivitas tersebut masih aman dilakukan?
Olahraga tetap penting bagi kesehatan, tetapi kondisi udara juga perlu detikers perhatikan, ya. Ada kalanya intensitas olahraga perlu dikurangi atau aktivitas dipindahkan ke dalam ruangan untuk membatasi paparan polusi.
Saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga napas menjadi lebih cepat dan dalam. Jika udara jadi kotor, kondisi ini malah membuat kita menghirup lebih banyak polutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari BMKG, masyarakat perlu memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar. Ketika tingkat polusi meningkat, jenis dan durasi aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi udara.
Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yaitu partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru saat terhirup.
Kapan Sebaiknya Mengurangi Olahraga di Luar Rumah?
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memeriksa kualitas udara sebelum berolahraga. Masyarakat dapat melihat informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau konsentrasi PM2.5 melalui sumber seperti BMKG.
Jika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, sebaiknya hindari olahraga berat di luar ruangan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi tinggi, termasuk menghindari olahraga di lingkungan dengan udara tercemar.
Pilihan aktivitas juga perlu disesuaikan. Ketika udara memburuk, olahraga intensitas tinggi seperti lari jarak jauh atau bersepeda dalam waktu lama sebaiknya ditunda atau dipindahkan ke dalam ruangan.
Apa Alternatifnya Jika Udara Sedang Buruk?
Saat udara di luar tidak mendukung, olahraga bisa dialihkan ke dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih. Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain latihan peregangan, senam, atau latihan kekuatan menggunakan berat badan sendiri.
Namun, berolahraga di dalam rumah juga perlu memperhatikan kualitas udara. Jika asap masuk melalui jendela atau ventilasi, pilih ruangan yang lebih terlindung dari udara luar dan kurangi sumber polusi di dalam rumah.
Jika kualitas udara membaik, aktivitas luar ruangan dapat kembali dilakukan dengan tetap memantau kondisi udara. Mengatur waktu dan lokasi olahraga menjadi salah satu cara untuk menjaga kebugaran sekaligus membatasi paparan polusi.
World Health Organization (WHO) mengatakan aktivitas fisik tetap perlu didorong, tetapi waktu dan lokasi olahraga sebaiknya disesuaikan. Bagi kelompok rentan, aktivitas fisik di luar ruangan dengan intensitas sedang hingga berat perlu dikurangi saat polusi tinggi.
Artikel ini ditulis Muhammad Fikri Haikal Saragih, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)
