Makanan praktis seperti mi instan, camilan kemasan, minuman manis, hingga makanan cepat saji kerap menjadi pilihan karena mudah ditemukan dan tidak membutuhkan banyak waktu untuk disiapkan. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, makanan ultra-proses foods (UPF) perlu mendapat perhatian karena berpotensi dengan berbagai masalah kesehatan.
Makanan ultra-processed foods merupakan produk pangan yang umumnya melalui pengolahan industri dengan formulasi bahan dan tambahan tertentu, seperti pemanis, pewarna, pengawet, atau pengemulsi. Contohnya minuman berpemanis, makanan ringan kemasan, mi instan, dan sejumlah produk daging olahan.
Menurut penelitian dalam Journal of Medical and Health Science 2026, makanan ultra-proses umumnya memiliki kandungan energi, gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium yang tinggi, tetapi relatif rendah serat serta sejumlah zat gizi penting. Meski begitu, kandungan setiap produk dapat berbeda sehingga konsumen perlu memperhatikan informasi nilai gizi pada kemasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkaitan dengan Risiko Sindrom Metabolik
Salah satu risiko yang menjadi perhatian peneliti adalah sindrom metabolik. Kondisi ini merupakan kumpulan faktor risiko kesehatan yang meliputi obesitas abdominal atau penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, trigliserida tinggi, serta kadar kolesterol HDL yang rendah.
Penelitian berjudul Pengaruh Pola Konsumsi Makanan Ultra-Proses terhadap Risiko Sindrom Metabolik pada Usia Produktif membahas hubungan pola konsumsi UPF dengan risiko sindrom metabolik pada kelompok usia 18-59 tahun. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat konsumsi makanan ultra-proses dan risiko sindrom metabolik.
Artikel tersebut juga menguraikan bahwa responden dengan konsumsi UPF lebih tinggi cenderung menunjukkan sejumlah indikator metabolik yang kurang menguntungkan, seperti lingkar pinggang lebih besar, tekanan darah lebih tinggi, dan peningkatan kadar trigliserida.
Kandungan energi yang tinggi dapat membuat asupan kalori harian berlebih apabila tidak diimbangi kebutuhan tubuh. Sementara itu, konsumsi natrium berlebihan dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Namun, risiko seseorang tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja, melainkan juga dipengaruhi pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, dan faktor kesehatan lainnya.
Ada Kaitan dengan Kesehatan Mental Remaja
Risiko yang diteliti tidak terbatas pada kesehatan metabolik. Konsumsi makanan ultra-proses juga telah dikaji dalam kaitannya dengan kesehatan mental, khususnya pada kelompok remaja.
Artikel Konsumsi Makanan Ultra-Proses (UPF) dan Risiko Gangguan Mental pada Remaja: Sebuah Tinjauan Naratif yang diterbitkan dalam Jurnal Kesmas dan Gizi pada 2025 merangkum 11 artikel penelitian. Literatur yang dianalisis mencakup studi dari sejumlah negara, dengan partisipan remaja berusia sekitar 11-19 tahun.
Sebagian besar penelitian yang ditinjau menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dan sejumlah masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi, kecemasan, gangguan tidur yang berkaitan dengan kecemasan, serta penurunan kualitas hidup.
Salah satu penelitian yang dirangkum dalam tinjauan itu melibatkan 94.767 remaja di Brasil dan menemukan hubungan antara tingginya konsumsi makanan ultra-proses dengan lebih seringnya gejala kesehatan mental, seperti kesedihan dan keputusasaan. Penelitian lain di Spanyol yang melibatkan 560 remaja juga menemukan hubungan konsumsi UPF dengan gejala depresi dan sejumlah masalah psikososial.
Hasil penelitian tidak sepenuhnya seragam. Salah satu studi terhadap remaja di Portugal tidak menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi UPF dan kesejahteraan emosional, sosial, maupun psikologis.
Penulis menegaskan sebagian besar studi yang dianalisis bersifat observasional. Artinya, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan, tetapi belum dapat memastikan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan mental.
Bukan Berarti Semua Makanan Olahan Harus Dihindari
Penting untuk membedakan makanan ultra-proses dengan semua jenis makanan yang telah diolah. Tidak semua proses pengolahan membuat makanan memiliki kualitas gizi yang buruk. Makanan yang dibekukan, dipasteurisasi, atau diolah secara sederhana tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Perhatian utama terletak pada jenis produk yang dikonsumsi, kandungan gizinya, jumlah, frekuensi, serta keseimbangan pola makan sehari-hari. Mi instan atau camilan kemasan yang dikonsumsi sesekali tidak otomatis menimbulkan penyakit, tetapi menjadikannya sumber makanan utama setiap hari dapat menyulitkan seseorang memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang.
Langkah yang dapat dilakukan, lebih sering memilih makanan berbahan segar atau minim proses, menambah konsumsi sayur dan buah, serta membatasi minuman berpemanis dan camilan kemasan yang tinggi gula, garam, atau lemak jenuh. Membaca label komposisi dan informasi nilai gizi juga dapat membantu saat memilih produk.
Makanan ultra-proses tidak perlu dipandang sebagai satu-satunya penyebab masalah kesehatan. Namun, temuan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola konsumsi yang didominasi produk tersebut layak menjadi perhatian. Membentuk kebiasaan makan yang lebih beragam dan seimbang dapat menjadi langkah untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Indonesia Sehat Dimulai dari Kita"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
