Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat mengakses bacaan, termasuk karya sastra. Perubahan tersebut tidak serta-merta membuat minat baca masyarakat menurun, justru semakin beragam.
"Minat baca itu sebenarnya nggak berubah ya. Tempatnya aja sebenarnya yang bertambah," ujar Sastrawan, Titan Sadewo, Selasa (13/10/2026).
Titan mengaku masih lebih menyukai bacaan cetak. Ia bahkan memiliki kebiasaan membeli koran sebelum mengajar, untuk membaca berbagai informasi dan mendiskusikannya bersama murid-murid di kelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kehadiran platform digital, seperti laman web dan media sosial, memberikan pilihan baru bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi dan menikmati bacaan. Meski demikian, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam memilah informasi yang beredar.
Ia menilai kebebasan pengguna dalam mengunggah konten di media sosial membuat pembaca perlu lebih cermat dalam menentukan bacaan, terutama untuk memastikan kebenaran informasi yang diperoleh.
"Jadi penyaringannya tidak tertata. Karena kita bebas ngomong semua di sosial media. Tapi di satu sisi itu juga memperkaya ya. Tinggal kita yang memilih bacaan kita di platform digital itu," tuturnya.
Di sisi lain, Titan melihat media sosial sebagai peluang bagi penulis untuk memperkenalkan karya mereka kepada khalayak yang lebih luas. Melalui platform digital, penulis dapat membangun identitas kepengarangan sekaligus menyimpan karya dalam bentuk arsip digital.
"Sastra digital itu membuat kita punya arsip dengan medium yang berbeda, terus punya kesempatan yang berbeda. Kalau misalnya di cetak itu terbatas ruangnya, di media sosial tidak," katanya.
Sejalan dengan penelitian Analisis Minat Membaca Sastra Digital melalui Platform Wattpad pada Mahasiswa yang diterbitkan Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 2026. Penelitian yang dilakukan Nafisah Zunata Salsabela dkk itu melibatkan 51 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan 94,1% responden membaca karya sastra setidaknya sekali dalam seminggu. Selain itu, 88,2% responden menggunakan perangkat digital sebagai media utama untuk membaca. Kemudahan akses menjadi alasan utama bagi 51% responden memilih Wattpad sebagai platform membaca sastra digital.
Temuan tersebut menggambarkan bahwa platform digital dapat menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mempertahankan kebiasaan membaca sastra. Meski begitu, hasil penelitian ini terbatas pada responden yang diteliti dan tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh anak muda Indonesia.
Penelitian lain berjudul Pembelajaran Sastra Berbasis Media Digital dalam Meningkatkan Literasi dan Karakter Siswa yang diterbitkan dalam DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 2025, juga membahas pemanfaatan sastra digital. Penelitian oleh Afina Zatil Isnan Maruhawa dkk dari Universitas Negeri Medan itu menyoroti potensi pembelajaran sastra digital dalam mendukung literasi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pembentukan karakter siswa.
Mengenai kualitas karya sastra yang beredar di berbagai platform, Titan menilai penilaian tersebut perlu dilihat berdasarkan ukuran yang digunakan. Ia mempertanyakan apakah kualitas karya dinilai berdasarkan standar redaktur media cetak atau teori sastra tertentu.
"Soal kualitas ini sebenarnya kualitas yang mana dan kualitas menurut siapa, itu dulu sebenarnya yang perlu didudukkan," ujarnya.
Bagi penulis muda yang ingin mengembangkan kemampuan menulis, Titan menyarankan agar mereka memperbanyak bacaan dan melakukan perenungan terhadap apa yang dibaca. Ia juga mendorong penulis muda untuk aktif mengirimkan karya ke media massa maupun festival agar memiliki kesempatan lebih luas untuk memperkenalkan tulisannya.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Rano Karno Sebut Minat Baca Warga Jakarta Tinggi tapi Terkendala Waktu"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
