Menonton televisi sambil rebahan menjadi salah satu cara untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas seharian. Kebiasaan ini terasa menyenangkan, terlebih ketika tayangan yang ditonton menarik sehingga membuat seseorang ingin terus melanjutkan episodenya.
Tanpa disadari, waktu menonton bisa berlangsung hingga larut malam dan membuat waktu istirahat semakin berkurang. Kebiasaan menonton tayangan secara beruntun dalam satu waktu dikenal sebagai binge-watching.
Aktivitas ini semakin mudah dilakukan melalui layanan streaming yang memungkinkan penonton memilih tayangan kapan saja. Masalahnya bukan semata-mata menonton sambil berbaring, melainkan ketika aktivitas tersebut membuat seseorang menunda waktu tidur atau mengurangi durasi istirahatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian dalam Jurnal Kesehatan Tambusai pada 2024 meneliti hubungan perilaku binge-watching dengan kualitas tidur mahasiswa. Penelitian melibatkan 257 mahasiswa dengan menggunakan kuesioner untuk menilai kebiasaan menonton dan kualitas tidur.
Hasilnya, sebanyak 216 responden atau 84 persen mengalami kualitas tidur buruk. Peneliti juga menemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara perilaku binge-watching dan kualitas tidur. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan menonton secara maraton berkaitan dengan kualitas tidur mahasiswa yang diteliti.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan cross-sectional, yaitu pengukuran pada satu periode. Hasilnya tidak dapat langsung membuktikan bahwa kebiasaan menonton merupakan satu-satunya penyebab kualitas tidur yang buruk. Penelitian ini juga dilakukan pada kelompok mahasiswa, sehingga hasilnya tidak bisa serta-merta digeneralisasi kepada seluruh masyarakat.
Penelitian lain berjudul Self-Control dalam Hubungan Binge Watching dengan Sleep Quality pada Mahasiswa diterbitkan dalam Provitae Jurnal Psikologi Pendidikan 2025. Penelitian ini melibatkan 356 mahasiswa dan mengkaji hubungan kebiasaan menonton serial secara maraton dengan kualitas tidur, sekaligus melihat peran kontrol diri.
Hasil penelitian menunjukkan, kontrol diri tidak terbukti memoderasi hubungan antara binge-watching dan kualitas tidur. Penelitian tersebut tidak menemukan bukti bahwa tingkat kontrol diri mengubah hubungan antara kedua variabel itu sesuai model yang diuji. Peneliti turut membahas faktor lain yang mungkin berkaitan dengan kebiasaan menonton, seperti relaksasi, regulasi emosi, lingkungan sosial, dan fear of missing out (FOMO).
Temuan ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara kebiasaan menonton dan kualitas tidur tidak selalu sederhana. Cara seseorang menggunakan waktu, alasan menonton, serta faktor lain dalam kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa posisi rebahan saat menonton secara langsung merusak kualitas tidur.
Menonton televisi atau serial bukanlah kebiasaan yang harus sepenuhnya dihindari. Hal yang perlu diperhatikan adalah durasi dan waktu menonton, terutama jika aktivitas tersebut membuat waktu tidur terus tertunda.
Langkah yang dapat dilakukan adalah menentukan batas waktu menonton sebelum mulai membuka tayangan. Penonton juga bisa menonaktifkan pemutaran episode otomatis agar lebih mudah berhenti setelah satu episode selesai. Jika sudah mendekati waktu tidur, sebaiknya tayangan dihentikan dan aktivitas menjelang tidur dibuat lebih tenang.
Penting untuk memperhatikan kondisi tubuh setelah bangun tidur. Jika seseorang terus merasa mengantuk, lelah, atau sulit berkonsentrasi pada siang hari, kebiasaan tidur dan aktivitas sebelum tidur patut dievaluasi.
Menonton TV sambil rebahan tidak otomatis menyebabkan kualitas tidur memburuk. Yang lebih perlu diwaspadai adalah kebiasaan menonton terlalu lama hingga mengorbankan waktu istirahat. Menikmati hiburan tetap bisa dilakukan, selama tidak membuat kebutuhan tidur terabaikan.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Bukan Tanda Tidur Nyenyak, Ngorok Bisa Jadi 'Bahaya' "
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
