Saat membicarakan kesehatan hati, alkohol sering kali menjadi hal pertama yang disoroti. Namun, ternyata bukan hanya alkohol yang perlu diperhatikan.
Melansir detikHealth, hati berperan dalam mengolah nutrisi, obat-obatan, serta berbagai zat lain yang beredar di dalam darah. Menurut spesialis bedah transplantasi hati di Paras Hospital, India, dr Ankur Garg, organ ini juga bisa merasa lelah karena berbagai kebiasaan sehari-hari.
"Bekerja dengan tenang sepanjang waktu, hati mengelola ratusan tugas penting, menyeimbangkan energi, memecah obat-obatan, membersihkan darah, dan membantu pencernaan," kata dr Ankur.
Perlemakan hati juga bisa berkembang tanpa gejala yang jelas. Hal tersebut menjadi alasan mengapa kebiasaan sehari-hari penting untuk diperhatikan, terutama kalau kebiasaan itu terus-menerus memengaruhi kadar gula darah, berat badan, dan metabolisme. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa memengaruhi kesehatan hati.
4 Kebiasaan yang Bisa Rusak Hati
1. Minum Minuman Manis
Beragam minuman yang dijual bebas bisa mengandung banyak gula tambahan.
"Minuman bersoda, kopi manis, jus kemasan, dan minuman energi sarat dengan fruktosa," kata dr Ankur.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menjelaskan bahwa pengidap penyakit hati berlemak perlu membatasi makanan dan minuman yang tinggi gula sederhana, terutama fruktosa. Konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik atau metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).
2. Duduk Berjam-jam Tanpa Bergerak
Duduk berjam-jam di dalam mobil, di depan meja atau di sofa bisa mengurangi jumlah glukosa yang dipakai otot.
"Ketika otot tetap diam, otot hanya membakar sedikit gula darah. Energi berlebih itu beredar kembali ke hati Anda, yang menyimpannya sebagai lemak membandel, bahkan pada orang yang kurus secara alami," tambahnya.
Aktivitas fisik penting untuk dilakukan. CDC merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu.
3. Tidak Memperhatikan Obat Penghilang Rasa Sakit dan Suplemen
Obat penghilang rasa sakit memang bisa bermanfaat. Tapi, mengonsumsinya terus-menerus atau mencampurnya dengan obat lain bisa menimbulkan risiko.
"Obat penghilang rasa sakit dan tablet sakit kepala yang dijual bebas memang bisa membantu, tapi menggunakannya sebagai penopang harian memaksa hati untuk terus-menerus memproses bahan kimia tambahan," kata dr Ankur.
"Mengandalkan teh detoks dan suplemen misterius: label alami atau herbal tidak otomatis berarti aman," tambahnya.
4. Kurang Tidur dan Makan Berat Sebelum Tidur
Menurut dr Ankur, kurang tidur dan pola tidur yang tak teratur bisa meningkatkan hormon stres seperti kortisol, yang dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak di area perut dan hati. Ia juga mengingatkan supaya tidak rutin makan berat sebelum tidur.
Memperhatikan waktu tidur dan makan bukanlah obat mujarab untuk menjaga kesehatan hati. Tetapi, hal itu menjadi bagian dari pola hidup yang lebih luas yang bisa memengaruhi berat badan, gula darah, dan kesehatan secara keseluruhan.
Alkohol Tetap Menjadi Faktor Risiko Utama bagi Kesehatan Hati
Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak secara teratur bisa menyebabkan perlemakan hati, peradangan, fibrosis, dan sirosis. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA) menegaskan bahwa alkohol bisa menyebabkan beberapa bentuk kerusakan hati.
Untuk itu, menurut dr Ankur, menjauhi alkohol sebisa mungkin menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan hati. Hati juga memiliki kemampuan untuk pulih dari sebagian kerusakan pada tahap awal.
"Melindunginya tidak memerlukan pembersihan detoksifikasi komersial yang agresif. Cukup dengan menghilangkan gesekan metabolisme harian yang mencegahnya melakukan tugasnya," katanya.
Simak Video "MAMA Lime Green Day Fest 2026, Ajak Hidup Sehat Bareng di Surabaya"
(dhm/dhm)