Mantan Tentara AS Nidal Hasan yang jadi terpidana pembunuhan 13 orang di pangkalan militer Fort Hood akan dieksekusi matai. Proses eksekusi mati Nidal rencananya akan disiarkan secara langsung via livestreaming.
Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth, mengatakan bahwa eksekusi mati terhadap Hasan akan dilaksanakan di hadapan "publik". Hasan, kata dia, melakukan aksinya pada tahun 2009 lalu.
"Eksekusi mati terhadap Hasan akan menjadi yang pertama dilakukan oleh militer AS sejak tahun 1961 silam, sekaligus yang pertama melibatkan regu tembak sejak Perang Dunia II," katanya seperti dilansir detikNews dari AFP, Jumat (9/10/2026),
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal pekan ini, Pentagon atau Departemen Pertahanan AS mengumumkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyetujui rekomendasi Hegseth untuk mengerahkan regu tembak dalam eksekusi mati terhadap Hasan.
Hegseth, dalam pernyataan video yang diunggah ke akun resmi Pentagon di media sosial X pada Kamis (8/10), mengatakan bahwa Hasan "akan menghadapi regu tembak tentara, sebagaimana mestinya, dan kita akan memastikan orang-orang dapat menyaksikannya, bahwa hal itu akan dilakukan di hadapan publik".
"Orang-orang perlu memahami bahwa... ada konsekuensi serius untuk tindakan semacam ini," tegas Hegseth dalam pernyataan via itu, yang merupakan potongan wawancara dengan influencer sayap kanan Jack Posobiec saat keduanya berada di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.
Ketika ditanya lebih lanjut soal apa yang dimaksud oleh Hegseth bahwa eksekusi mati itu akan dilakukan di depan publik, Pentagon menyebutkan bahwa akan ada tayangan livestreaming.
"Eksekusi mati itu akan disiarkan via livestreaming. Rincian lebih lanjut akan menyusul," kata seorang pejabat Pentagon, yang enggan disebut namanya, kepada AFP.
Dalam pernyataannya, Hegseth menekankan bahwa ini akan menjadi eksekusi mati oleh regu tembak pertama yang dilakukan militer AS sejak Perang Dunia II. Dia merujuk pada kasus Eddie Slovik yang dihukum mati karena desersi pada tahun 1945 silam.
"Saya menyukai mentalitas yang kita miliki pada Perang Dunia II, yaitu mentalitas untuk menang, yang memahami bahwa ketika musuh menyerang, Anda harus teguh mempertahankan posisi," ucap Menhan AS tersebut.
