Terpidana Mati Christa Pike Selamat Usai Disuntik Mati, Pengacara Bingung

Internasional

Terpidana Mati Christa Pike Selamat Usai Disuntik Mati, Pengacara Bingung

Haris Fadhil - detikSumut
Jumat, 09 Okt 2026 07:29 WIB
FILE PHOTO: A picture taken on December 4, 2007 shows death row inmate Christa Pike entering a Knox County Criminal Court in Knoxville, Tennessee, US., obtained by Reuters on September 30, 2026.  J. Miles Cary/ Knoxville News Sentinel/USA TODAY NETWORK via REUTERS NO RESALES. NO ARCHIVES. MANDATORY CREDIT./File Photo
Foto: Christa Pike (REUTERS/J. Miles Cary)
Jakarta -

Terpidana kasus pembunuhan di Amerika Serikat (AS), Christa Pike, dilaporkan masih hidup setelah menjalani eksekusi dengan metode suntik mati. Peristiwa ini menjadikan Pike sebagai terpidana pertama di AS yang diketahui selamat setelah menerima suntikan mematikan.

Dikutip dari BBC dan CBS News, Kamis (8/10/2026), Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer yang dilakukannya bersama sang kekasih pada 1995. Pike dilaporkan bertahan hidup setelah menerima dua dosis obat pentobarbital.

Death Penalty Information Center menyatakan Pike merupakan satu-satunya orang yang diketahui selamat dari eksekusi suntik mati di AS. Para ahli dan tim pengacaranya menyebut pemulihan kondisi Pike sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengacara Pike, Randy Spivey, mengungkapkan bahwa selama beberapa hari, tim hukumnya sempat menduga kliennya mengalami mati otak. Mereka bahkan memperkirakan alat bantu hidup Pike akan segera dicabut.

Namun, situasi berubah secara tak terduga ketika Pike mulai berbicara pada Selasa (6/10). Meski sudah dapat berkomunikasi, dia hanya mampu mengingat sedikit hal mengenai proses eksekusi yang dijalaninya.

ADVERTISEMENT

Sebelum disuntik, Pike disebut sempat membantu tim eksekusi menemukan pembuluh darah di lengannya. Dia juga bersikap ramah dan sopan selama proses tersebut berlangsung.

Setelah itu, Pike terbangun di rumah sakit dengan selang terpasang di tenggorokannya. Dia juga mendapati dirinya dikelilingi orang-orang yang tidak dikenalnya. Menurut Spivey, kedua lengan Pike kini mengalami pembengkakan 'parah'.

"Kami tidak tahu dampak apa yang akan ditimbulkan oleh semua ini terhadap kesehatan mentalnya," kata Spivey seraya menyoroti bagaimana kliennya merasa 'marah dan bingung' akibat pengalaman pahit tersebut.

Spivey mengatakan kondisi Pike membuat semua pihak terkejut. Dia juga mengungkapkan bahwa kata-kata pertama yang diucapkan Pike setelah mulai sadar adalah 'Di mana saya?' dan 'Siapa Anda?'

"Saya tidak memiliki penjelasan atas apa yang terjadi," kata Spivey.

Artikel ini sudah tayang di detikNews, baca selengkapnya di sini.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads