Sisa potongan sayur, kulit buah, atau daun yang biasanya langsung masuk tempat sampah ternyata masih bisa dimanfaatkan. Bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi kompos yang berguna untuk tanaman di rumah. Selain mengurangi sampah dapur, membuat kompos juga tidak membutuhkan alat yang rumit.
Sebelum mulai, siapkan wadah yang memiliki penutup dan beberapa lubang kecil agar udara tetap bisa masuk. Masukkan bahan organik seperti sisa sayuran, kulit buah, daun kering, atau potongan rumput. Bahan yang berukuran besar sebaiknya dipotong lebih kecil agar lebih mudah terurai.
Cara ini bukan sekadar teori. Dilansir dari penelitian Tauny Akbari dan Afni Khadijah dalam Jurnal Teknologi Lingkungan (2024), sisa sayur dan kulit buah dapat diolah menjadi kompos menggunakan komposter aerobik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian tersebut, 2 kg sisa sayur dan kulit buah dicampur dengan 0,5 kg sisa nasi dan dikomposkan selama 28 hari. Hasilnya, kompos yang dihasilkan memenuhi parameter mutu yang diuji dalam penelitian.
Supaya prosesnya berjalan lancar, jangan hanya memasukkan sampah yang basah. Campurkan juga bahan kering seperti daun kering, potongan kardus, atau kertas tanpa lapisan mengilap. Dilansir dari Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat, proses pengomposan membutuhkan perpaduan bahan basah, bahan kering, air, dan udara agar proses penguraian berjalan dengan baik.
Sesekali, aduk isi komposter agar bahan tidak terlalu padat dan udara bisa masuk. Kalau muncul bau tidak sedap, bisa jadi kompos terlalu basah atau kekurangan udara. Tambahkan bahan kering lalu aduk kembali untuk membantu memperbaiki kondisinya.
Tidak semua sampah dapur cocok dimasukkan ke dalam komposter. Daging, ikan, tulang, produk susu, minyak, dan makanan berlemak sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan bau dan menarik hewan.
Kompos juga tidak bisa langsung jadi dalam sehari. Dalam kondisi yang terawat, EPA menyebut kompos rumahan umumnya membutuhkan sekitar tiga sampai lima bulan. Kompos yang sudah matang biasanya berwarna gelap, teksturnya remah, dan memiliki aroma seperti tanah.
Menariknya, dari sesuatu yang awalnya dianggap tidak berguna, kita bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat kembali. Sisa kulit buah dan sayuran yang biasanya memenuhi tempat sampah bisa berubah menjadi bahan yang membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman di rumah.
Artikel ini ditulis Devi Silaban, Mahasiswa Magang dari Universitas Negeri Medan di detikSumut.
