2 Kali Gagal Disuntik Mati, Napi Pembunuhan di AS Kritis

Internasional

2 Kali Gagal Disuntik Mati, Napi Pembunuhan di AS Kritis

Tim detikNews - detikSumut
Jumat, 02 Okt 2026 10:01 WIB
Petugas medis mempersiapkan ruangan yang akan digunakan untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (30/4/2020). Peralatan medis ini didatangkan oleh CT Corp, bersama Bank Mega serta dukungan Indofood dan Astra Group.
Ilustrasi (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Seorang perempuan terpidana mati kasus pembunuhan di Tennessee, Amerika Serikat (AS), selamat dari dua kali upaya eksekusi dengan suntikan mematikan. Kini, perempuan tersebut berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan medis untuk menyelamatkan nyawanya.

Dilansir detikNews dari AFP, Jumat (2/10/2026), Christa Pike (50) dibawa dari ruang eksekusi di sebuah penjara menuju rumah sakit pada Rabu malam waktu setempat. Pike masih bertahan hidup setelah sebelumnya menerima dua dosis mematikan obat pentobarbital.

"Informasi yang kami terima adalah bahwa ia berada dalam kondisi kritis dan sedang menerima perawatan penyelamatan nyawa," ujar pengacara Pike, Randy Spivey, dalam konferensi pers virtual pada Kamis sore. Ia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai kondisi kliennya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spivey juga meminta Gubernur Tennessee Bill Lee membatalkan hukuman mati terhadap Pike. Sebelumnya, Lee telah menolak permohonan grasi yang diajukan Pike pada awal pekan ini.

"Setelah menjalani isolasi selama lebih dari 20 tahun dan menghadapi upaya eksekusi penuh melalui suntikan mematikan, Christa telah menanggung hukuman yang lebih berat dibandingkan siapa pun dalam sejarah hukuman mati di Amerika. Gubernur harus mengubah hukuman Christa sekarang juga."

ADVERTISEMENT

Kasus Pike disebut belum pernah terjadi sebelumnya oleh sejumlah pakar hukuman mati di AS. Robin Maher, Direktur Eksekutif Death Penalty Information Center, mengatakan kegagalan eksekusi tersebut berbeda dari kasus-kasus serupa yang pernah terjadi pada era modern.

"Upaya yang gagal ini adalah yang terburuk yang pernah kami lihat dan berbeda dari eksekusi gagal lainnya di era modern," kata Robin Maher, Direktur Eksekutif Death Penalty Information Center.

Berdasarkan catatan pusat informasi tersebut, terdapat tujuh narapidana yang eksekusinya gagal dilakukan karena petugas medis tidak berhasil memasang jalur infus. Namun, kasus Pike memiliki perbedaan karena "Pike adalah orang pertama yang selamat setelah disuntik dengan dosis mematikan obat eksekusi."

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump turut menanggapi kegagalan eksekusi tersebut pada Kamis malam. Trump mempertanyakan bagaimana pelaksanaan hukuman mati seperti yang dialami Pike bisa gagal dan mengatakan kepada wartawan bahwa hal itu "seharusnya tidak terlalu sulit."



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads