Mengenal Titan Sadewo, Penyair Muda di Sumut yang Lahir dari Dunia Teater

Mengenal Titan Sadewo, Penyair Muda di Sumut yang Lahir dari Dunia Teater

Irasa - detikSumut
Selasa, 29 Sep 2026 07:31 WIB
Penyair muda di Sumut, Titan Sadewo (Irasa Hafizna/detikcom)
Foto: Penyair muda di Sumut, Titan Sadewo (Irasa Hafizna/detikcom)
Medan -

Titan Sadewo dikenal sebagai salah satu penyair muda di Sumatera Utara. Karya pria yang lahir di Medan 2 Desember 1999 itu, sudah banyak ditayangkan berbagai media sastra.

Tidak hanya itu, kumpulan puisi yang ditulis Titan sudah diterbitkan menjadi dua buku. Pertama, berjudul 'Celakalah Orang-orang yang Jatuh Cint' dan buku kedua 'Simulasi Sakaratul Maut'.

Tapi siapa sangka, jalan Titan menjadi penyair justru tidak dimulai dari bangku kuliah. Ia pertama kali menemukan puisi ketika aktif di kelompok teater saat masih bersekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berawal dari Panggung Teater

Ketertarikannya pada dunia sastra bermula ketika ia bersekolah di SMK Laksamana Martadinata, Medan. Saat itu Titan aktif dalam kelompok teater sekolah. Dari aktivitas tersebut, ia kemudian mendapat sebuah buku dari pelatih atau seniornya.

"Saya waktu itu dapat buku dari pelatih teater. Saya baca, ternyata saya suka. Dari situ saya mulai mengenal puisi," ujar Titan.

ADVERTISEMENT

Buku itulah yang menjadi pintu pertama Titan mengenal puisi. Titan mulai membaca dan menemukan sesuatu yang berbeda dari cara bahasa digunakan dalam puisi.

Baginya, kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari bisa menghasilkan efek yang berbeda ketika disusun menjadi sebuah karya.
Ketertarikan itu perlahan membuat Titan tidak hanya membaca puisi, tetapi juga ingin mencoba menulisnya.

Dari panggung teater, Titan kemudian mulai masuk lebih jauh ke dunia penulisan yang akhirnya menjadi bagian penting dalam kehidupannya hingga sekarang.

Pernah Membaca 3 Buku Puisi dalam Sehari

Titan mulai serius menulis pada 2017. Masa tersebut menjadi titik penting dalam perjalanannya karena Titan mulai menjadikan membaca dan menulis puisi sebagai aktivitas yang dilakukan secara intens.

Saat berkuliah di Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Titan mengaku lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku puisi.

Bahkan, Titan menyebut periode 2017 hingga akhir 2020 sebagai masa ketika dirinya begitu "obsesif" terhadap puisi.

"2017 sampai akhir 2020 itu saya benar-benar baca buku puisi. Saya bisa dibilang obsesif dengan puisi," kata Titan.

Dalam sehari, Titan mengaku bisa membaca dua hingga tiga buku puisi. Titan tidak sekadar membaca untuk menikmati karya, tetapi juga mencoba memahami bagaimana penyair memilih kata dan membangun sebuah puisi. Salah satu penyair yang banyak memengaruhinya adalah Joko Pinurbo.

Kebiasaan membaca tersebut membuat Titan semakin penasaran terhadap proses di balik sebuah puisi. Titan mencoba memahami mengapa sebuah kata dipilih, bagaimana susunan kata dapat membentuk suasana, dan bagaimana bahasa sederhana bisa menghasilkan makna yang berbeda. Dari membaca, Titan kemudian semakin banyak menulis.


Aktif Kirim Puisi ke Media

Setelah mulai serius menulis, Titan tidak berhenti pada buku catatan pribadi. Titan mulai mengirimkan puisinya ke berbagai media di Sumatera maupun di luar Sumatera.

Proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Berkali-kali mengirim karya menjadi bagian dari perjalanan Titan untuk menemukan ruang bagi puisinya.

Jika digabungkan dengan pengiriman ke berbagai media, Titan memperkirakan hampir 1.000 puisi pernah dikirimkannya selama bertahun-tahun menekuni dunia penulisan.

Bahkan ketika masih kuliah, ia mengaku pernah menulis hingga 8 atau 9 puisi dalam sehari. Ketekunan tersebut kemudian memperluas jejak Titan di dunia sastra.

Puisinya tersebar di berbagai media dan Titan juga berkesempatan mengikuti sejumlah kegiatan sastra, seperti Temu Penyair Nusantara, Hari Puisi Indonesia, Payakumbuh Poetry Festival, Balige Writers Festival hingga Borobudur Writers Cultural Festival.

Terbitkan 2 Buku

Perjalanan panjang tersebut kemudian bermuara
pada lahirnya karya dalam bentuk buku. Buku pertama Titan berjudul Celakalah Orang-orang yang Jatuh Cinta. Buku tersebut menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan kepenyairannya.

Beberapa tahun kemudian, Titan kembali menerbitkan buku puisi. Kali ini, Simulasi Sakaratul Maut diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2025.

Dua buku tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang dimulai jauh sebelumnya, ketika Titan masih menjadi siswa yang aktif di kelompok teater dan mendapatkan sebuah buku dari pelatihnya.

Dari buku itu, ia menemukan puisi. Dari puisi, ia mulai membaca dan menulis. Bertahun-tahun kemudian, aktivitas tersebut membawanya menjadi penyair yang karyanya telah tersebar di berbagai media dan festival sastra.

Artike ditulis Irasa Hafizna, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Mengunjungi Keindahan Mata Air Bah Tio, Sumatera Utara "
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads