Cerita Murid Sekolah Rakyat Ingin Belajar Bahasa Arab Tapi Tak Ada Gurunya

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Jumat, 25 Sep 2026 21:20 WIB
Hana Maliha (15) seorang siswi kelas X di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Medan. (Foto: Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Deli Serdang -

Hana Maliha (15) seorang siswi kelas X di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Medan bercerita dirinya sangat ingin mengembangkan kemampuan berbahasa Arab yang ia pelajari di pesantren. Namun, hal ini terkendala belum ada guru yang bisa mengajar Bahasa Arab di sekolah tersebut.

"Kalau guru Bahasa Arab belum ada. Tapi guru agama ada. Ya jadi belajar sendiri di asrama, atau sama kakak-kakak kelas," ujar Hana saat diwawancarai di SRT 2 Medan, Jalan Flamboyan II Kecamatan Medan Tuntungan, Jumat (25/9/2026).

Hana merupakan lulusan Pesantren Baitusy Syakirin, Kecamatan Hamparan Perak. Dari sana, Hana mengaku bisa lancar berbahasa Arab dan hafal beberapa juz Al- Quran.

Hana berharap ada guru Bahasa Arab yang bisa membimbingnya memperlancar kemampuan berbahasa Arab.

"Boleh juga gitu (ada guru Bahasa Arab) karena kan biar nambah bahasa juga kan, juga yang kalau sudah tahu bisa ngedalamin lagi," ungkapnya.

Dikatakan Hana, di SRT 2 Medan terdapat beberapa hari khusus untuk menggunakan Bahasa Inggris (English Day). Biasanya dilakukan saat sebelum masuk kelas di pagi hari.

Hana berharap, English Day ini juga bisa diterapkan serupa untuk Bahasa Arab.

"Jadi kalau English Day itu kita bergantian ke depan menjelaskan kegiatan kita pakai Bahasa Inggris. Terus ada menampilkan seni-seni gitu juga. Jadi ada harapan Arab Day juga," ungkapnya.

Hana bercerita awal mula dirinya masuk ke Sekolah Rakyat. Awalnya ia mengaku bingung saat lulus Pesantren dan ingin melanjutkan sekolah.

Anak kelima dari enam bersaudara ini menyebut, saat itu kebutuhan biaya untuk masuk ke SMA sangat tinggi. Sementara kemampuan ekonomi orang tuanya terbatas.

"Waktu itu saya sudah lulus pesantren, tapi mau lanjut sekolah bingung karena biaya juga mahal. Kebetulan waktu itu dari petugas PKH disarankan masuk ke sini, ya kebetulan mama juga mengizinkan, ya sudah masuk ke sini," katanya.

Ayah Hana berjualan susu kedelai keliling untuk menghidupi keluarga. Sementara sang ibu berjualan mie sop.

Hana mengaku senang bisa masuk ke Sekolah Rakyat. Hal ini lantaran dirinya memang anak rumahan dan tidak suka keluar rumah.

"Saya kebetulan anaknya jarang keluar rumah, jadi ya di sini rasanya lebih teratur. Bangun pagi sampai tidur lagi itu sudah ada kegiatannya dan semuanya dilakukan bersama-sama," katanya.

Selain Bahasa Arab, Hana juga memiliki minat di bela diri. Setiap Jumat, ia rutin mengikuti ekstrakurikuler Pencak Silat.

"Kalau kita ada kemauan sih di sini semua didukung gitu. Misalnya buku-buku Bahasa Arabnya ada, terus guru Silat juga ada khusus untuk mengajar kami di Hari Jumat," tuturnya.



Simak Video "Video: Momen Paduan Suara Sekolah Rakyat Persembahkan Lagu Hari Merdeka di Istana"


(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork