Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyampaikan instruksi agar murid sekolah di Indonesia mempelajari bahasa Prancis akan menambah kepadatan kurikulum. Padahal, Indonesia saat ini masih kekurangan tenaga pengajar.
"Dan kebutuhan 480 ribu guru tidak akan bisa terpenuhi oleh pemerintah, apalagi sudah 6 tahun pemerintah tak lagi merekrut guru PNS. Alhasil tak ada guru profesional yang akan mengajar pelajaran tersebut," kata Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim dalam keterangannya.
Seperti diketahui dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. di Istana Kepresidenan ΓlysΓ©e, Paris, Kamis (28/5/2026), Presiden Prabowo mengungkapkan telah menginstruksikan kepada seluruh sekolah di Indonesia untuk mengajarkan bahasa Prancis kepada siswa. Prabowo mengatakan hal itu dilakukan melihat perkembangan dunia ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang saya sudah menginstruksikan bahwa semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo di hadapan Macron.
P2G menjabarkan bahwa bahasa asing nonbahasa Inggris sebenarnya sudah tersedia dalam kurikulum. Seperti bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Korea, Jerman, dan Prancis.
Bahkan di SMK bidang pariwisata dan perhotelan, mata pelajaran bahasa asing juga telah diajarkan untuk mendukung kebutuhan dunia kerja. Hal itu selaras juga dengan Program Sertifikasi Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri menambahkan dan menyarankan pemerintah seharusnya lebih fokus membenahi kemampuan dasar siswa seperti matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Ia menyinggung hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) SMA 2025 yang masih rendah, dengan rata-rata nilai bahasa Inggris 24,93 dan matematika 36,10.
"Ketimbang memaksakan bahasa Prancis dan Portugis diajarkan di semua jenjang sekolah, justru lebih mendesak pemerintah membenahi buruknya kemampuan murid untuk matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia di sekolah," ujar Iman.
Usul Jadi Ekstrakurikuler Saja
Sebagai solusi, P2G mengusulkan bahasa Prancis dan Portugis cukup dijadikan kegiatan ekstrakurikuler atau klub bahasa di sekolah bagi siswa yang berminat. P2G menunjukkan data dari UNESCO bahwa Prancis juga tidak termasuk 10 negara favorit tujuan studi warga Indonesia.
Dengan demikian, urgensinya belum sekuat bahasa asing seperti bahasa Inggris. Sehingga, mapel bahasa Prancis ini bisa ditaruh di ekstrakurikuler terlebih dahulu.
"Prancis tidak masuk dalam daftar tersebut. Artinya penggunaan bahasa Prancis dalam kepentingan komunikasi perdagangan global Indonesia belum mendesak. Apalagi sudah ada bahasa Inggris yang digunakan sebagai alat komunikasi bersama secara internasional," jelas Iman.
(cyu/pal)











































