BP Batam Dorong Data Center Bangun SWRO untuk Jaga Pasokan Air Warga

Kepulauan Riau

BP Batam Dorong Data Center Bangun SWRO untuk Jaga Pasokan Air Warga

Alamudin Hamapu - detikSumut
Jumat, 25 Sep 2026 09:57 WIB
Amsakar Achmad, Wali Kota Batam ex officio kepala BP Batam. (Foto: Dok BP Batam)
Amsakar Achmad, Wali Kota Batam ex officio kepala BP Batam. (Foto: Dok BP Batam)
Batam -

Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong setiap pengembangan data center di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut secara mandiri. Kebijakan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air industri tanpa mengganggu pasokan air baku bagi masyarakat.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kewajiban tersebut akan diarahkan terutama bagi industri data center yang membutuhkan air dalam jumlah besar. Dua kawasan yang menjadi perhatian adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil.

"Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong adalah bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO," kata Amsakar dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Amsakar, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Kebutuhan air untuk operasional data center diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada sumber air baku dari waduk yang selama ini menopang kebutuhan masyarakat Batam.

ADVERTISEMENT

"Ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha, tanpa mengganggu kapasitas produksi waduk untuk masyarakat ke depan," ujarnya.

BP Batam memproyeksikan kapasitas produksi air melalui SWRO di Batam akan meningkat dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pada tahap awal, tambahan kapasitas diproyeksikan sekitar 750 liter per detik.

Kapasitas tersebut kemudian ditargetkan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik melalui pembangunan instalasi SWRO di dua kawasan, yakni KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil.

Dari sekitar 10 rencana pengembangan data center di Batam, satu di antaranya telah beroperasi. Pengelola data center tersebut disebut menyambut baik kebijakan pembangunan SWRO secara mandiri.

Pengembangan data center lainnya juga diarahkan untuk menerapkan skema serupa sehingga kebutuhan air industri dapat dipenuhi dari sumber alternatif.

Amsakar mengatakan pembangunan SWRO tidak menutup kemungkinan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Jika kapasitas produksi air hasil desalinasi melebihi kebutuhan operasional data center, kelebihan air tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun, pemanfaatan tersebut tetap harus mempertimbangkan kapasitas produksi, kualitas air hasil pengolahan serta kesiapan jaringan distribusi.

"Jadi bukan hanya industrinya yang kita pikirkan. Kita juga melihat bagaimana investasi ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Kalau kapasitasnya memungkinkan dan infrastrukturnya siap, tentu ada peluang untuk dimanfaatkan bagi masyarakat," Ujarnya.

Menurutnya, pengembangan sumber air alternatif menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan Batam sebagai kawasan industri sekaligus perkotaan.

Keberadaan data center sendiri menjadi salah satu sektor yang diproyeksikan memperkuat struktur ekonomi Batam. Investasi tersebut diharapkan turut mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, membuka lapangan kerja bagi tenaga profesional, serta menggerakkan berbagai sektor pendukung lainnya.



(dhm/dhm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads