'Super Flu' Terdeteksi di Sumut, Ada 3 Kasus

'Super Flu' Terdeteksi di Sumut, Ada 3 Kasus

Suci Risanti Rahmadania - detikSumut
Kamis, 24 Sep 2026 06:29 WIB
Ilustrasi Virus Ebola
Ilustrasi virus (Foto: Fusion Medical Animation/Unsplash)
Jakarta -

Influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan ramai disebut sebagai 'Super Flu' telah ditemukan di 13 provinsi di Indonesia. Berdasarkan data kumulatif sejak Januari 2026, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi dua wilayah dengan jumlah kasus paling banyak.

Temuan tersebut tercatat dalam Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 hingga 19 September 2026 atau pekan ke-37.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa istilah yang digunakan secara resmi adalah Influenza tipe A(H3N2) subclade K. Data yang dirilis merupakan akumulasi kasus sejak awal 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang digunakan istilahnya Influenza tipe A(H3N2) subclade K. Data tersebut merupakan data kumulatif dari Januari 2026," ucap Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman melansir detikHealth, Selasa (22/9/2026).

Di sisi lain, sejumlah kelompok masyarakat diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat apabila terinfeksi virus influenza.

ADVERTISEMENT

Balita dan Lansia Paling Berisiko

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp A, Subsp Respi(K), sebelumnya menjelaskan bahwa influenza A, termasuk varian H3N2 dan subclade K, berpotensi menimbulkan kondisi lebih serius pada kelompok yang masuk kategori berisiko tinggi.

Menurutnya, berdasarkan faktor usia, terdapat dua kelompok yang paling rentan, yakni balita dan lanjut usia (lansia).

"Kelompok risiko tinggi kalau dari segi usia, kelompok risiko tinggi ada dua, yang pertama adalah balita, kemudian lansia, itu adalah kelompok risiko tinggi kalau terkena infeksi influenza, dia bisa menimbulkan keparahan yang lebih tinggi daripada kelompok pasien yang lain," ujar dr Nastiti dalam konferensi pers IDAI secara daring, Senin (29/12/2025).

Risiko mengalami keparahan juga dapat meningkat pada orang yang memiliki penyakit penyerta maupun kondisi tertentu yang membuat sistem kekebalan tubuh melemah. Mereka yang termasuk kelompok ini antara lain pasien dengan penyakit jantung, kanker, HIV, serta orang yang menggunakan obat-obatan penekan sistem imun, termasuk pasien dengan kondisi autoimun.

Meski demikian, imunisasi influenza tetap dinilai memiliki manfaat untuk mengurangi risiko penularan dan tingkat keparahan penyakit. Hingga kini, belum terdapat bukti bahwa subclade K mampu menghindari perlindungan imunisasi influenza.

"Imunisasi influenza masih bisa menurunkan penularan dan keparahan, jadi belum ada bukti bahwa, Subclade K ini kebal atau tidak mempan atau tetap menginfeksi pada orang-orang yang sudah diimunisasi," tandasnya.

Sebaran Kasus Subclade K

Berdasarkan data kumulatif sejak Januari 2026, kasus Influenza A(H3N2) subclade K telah teridentifikasi di 13 provinsi. Berikut rinciannya:

  • Jawa Timur: 18 kasus
  • Kalimantan Selatan: 18 kasus
  • Jawa Barat: 12 kasus
  • DKI Jakarta: 11 kasus
  • Sumatera Selatan: 5 kasus
  • Sumatera Utara: 3 kasus
  • Bali: 2 kasus
  • Nusa Tenggara Timur: 2 kasus
  • Nusa Tenggara Barat: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus
  • Jawa Tengah: 1 kasus
  • Sulawesi Selatan: 1 kasus
  • DI Yogyakarta: 1 kasus


(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads