Pusat Data Amazon Dihantam Drone Iran, Data Pelanggan Tak Bisa Dipulihkan

Internasional

Pusat Data Amazon Dihantam Drone Iran, Data Pelanggan Tak Bisa Dipulihkan

Rachmatunnisa - detikSumut
Jumat, 18 Sep 2026 11:41 WIB
Pusat data Amazon di Abu Dhabi, UEA seperti terlihat pada 2 Maret 2026. Serangan drone Iran merusak pusat data tersebut pada 1 Maret.
Foto: Planet Labs PBC
Jakarta -

Enam bulan setelah serangan drone Iran menghantam sejumlah pusat data Amazon, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu mengonfirmasi bahwa sebagian data pelanggan yang tersimpan di pusat data Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) telah hilang secara permanen.

"Amazon Web Services 'tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data' yang dihosting di beberapa pusat data yang rusak akibat perang," demikian menurut pembaruan dasbor Amazon Web Services (AWS) yang diposting pada 15 September dilansir detikHealth, Jumat (18/9/2026).

Informasi tersebut pertama kali diberitakan Reuters. Pengakuan AWS ini memperlihatkan besarnya dampak serangan Iran terhadap infrastruktur pusat data perusahaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di UEA, data pelanggan dipastikan hilang secara permanen pada salah satu dari tiga zona ketersediaan AWS, yakni zona dengan kode mec1-az2. Setiap zona ketersediaan AWS dilayani oleh satu atau beberapa pusat data Amazon.

Sementara itu, AWS masih melakukan upaya pemulihan terhadap sumber daya regional serta layanan yang berada di dua zona ketersediaan lainnya di UEA. Perusahaan mengatakan tengah mengganti infrastruktur yang terdampak dan akan memberikan informasi kepada pelanggan terkait perkembangan pemulihan layanan dalam beberapa bulan ke depan.

ADVERTISEMENT

Dampak serangan disebut lebih luas terjadi di Bahrain. Amazon menyatakan tidak dapat memulihkan akses terhadap sumber daya maupun data yang berada di seluruh tiga zona ketersediaan AWS di negara tersebut.

"Kerusakan pada infrastruktur kami meluas ke beberapa Zona Ketersediaan dan melebihi kemampuan yang dirancang untuk ditahan oleh layanan regional dan multi-AZ kami," demikian pernyataan pembaruan dari AWS yang dikutip dari Ars Technica.

Sebelumnya, AWS telah menghentikan sementara penagihan kepada pelanggan di wilayah yang terdampak di Bahrain dan UEA. Selama enam bulan terakhir, perusahaan juga terus berupaya mengembalikan operasional layanan seperti semula.

Serangan drone Iran terhadap pusat data Amazon di Bahrain dan UEA pertama kali terjadi pada 1 Maret. Serangan tersebut berlangsung pada awal perang yang dimulai setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Tak lama setelah serangan, AWS meminta para pelanggan memindahkan sumber daya mereka ke wilayah cloud lain. Pelanggan juga dianjurkan menggunakan cadangan jarak jauh untuk memulihkan 'sumber daya yang tidak dapat diakses'. Layanan cloud tersebut dilaporkan turut memberikan kredit senilai USD 150 juta kepada pelanggan setelah serangan Iran pada Maret.

Serangan berikutnya terjadi pada 1 April dan kembali menyasar pusat data Amazon di Bahrain. Dalam pembaruan terbarunya, AWS mengakui adanya 'gangguan' pada zona ketersediaan kedua di Bahrain pada April.

Meski demikian, perusahaan menyebut sebagian besar pelanggan yang terdampak telah mengikuti anjuran untuk memindahkan beban kerja komputasi awan mereka ke wilayah lain.

Artikel ini sudah tayang di detikHealth, baca selengkapnya di sini.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads