Tambang Emas Runtuh di Sudan, 82 Orang Tewas

Internasional

Tambang Emas Runtuh di Sudan, 82 Orang Tewas

Lisye Sri Rahayu - detikSumut
Kamis, 17 Sep 2026 07:32 WIB
Police line tape. Crime scene investigation. Forensic science.
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/D-Keine).
Jakarta -

Tambang emas runtuh di negara bagian Kordofan Barat, Sudan. Akibat dari itu 82 orang tewas, puluhan orang lainnya terluka dan masih ada korban dilaporkan hilang.

Dilansir detikNews dari AFP, Rabu (16/9/2026), dua orang korban yang selamat menjelaskan kepada AFP bahwa upaya penyelamatan sepanjang malam dimulai pada Selasa (15/9). Hingga subuh tadi petugas sudah mengevakuasi 60 jenazah.

Sementara itu, administrator lokal dari pasukan Rapid Support Forces (RSF), yang mengendalikan Kordofan Barat, mengatakan sebanyak 22 jenazah lainnya telah ditemukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lima puluh orang terluka dan ada sejumlah orang yang tidak diketahui masih terjebak di bawah reruntuhan," katanya kepada AFP tanpa mau disebutkan namanya karena dia tidak berwenang berbicara atas nama pemerintah.

ADVERTISEMENT

Sejak perang di Sudan meletus, kedua belah pihak sebagian besar didanai oleh perdagangan emas negara tersebut, yang bernilai miliaran dolar.

Dengan banyaknya pengangguran di negara itu, banyak generasi muda Sudan yang ikut serta dalam demam emas yang berbahaya, sebagian besar di pertambangan yang tak diatur seperti Al-Zaraa di Kordofan Barat.

"Semua orang bekerja sangat keras untuk mengambil jenazah atau korban selamat, tapi ini sulit," kata salah satu korban selamat, Khair al-Sayyed Jabara, kepada AFP setelah operasi penyelamatan sepanjang malam bersama rekan-rekan penambang, menggunakan peralatan sederhana yang sama yang mereka gunakan untuk mengekstraksi emas.

"Kami membutuhkan alat berat untuk membersihkan batu dan tanah," imbuhnya.

Runtuhnya tambang merupakan hal biasa di Sudan. Wilayah Kordofan yang kaya akan sumber daya alam di selatan punya banyak tambang tak resmi yang merupakan lubang besar dan tidak aman di mana puluhan pemuda bekerja setiap hari.

Operasi penyelamatan skala besar hampir tidak mungkin dilakukan di Kordofan Barat, yang berada di bawah kendali RSF bersama dengan wilayah tetangga Darfur, di mana pasukan paramiliter dituduh melakukan genosida.

Meskipun RSF mendeklarasikan kantor pemerintah dan administrasi lokal yang paralel, kemampuan pemerintahan RSF masih terbatas. Masyarakat di Sudan bagian barat sebagian besar masih bergantung pada bantuan dan jaringan komunitas untuk bertahan hidup.

Negara terbesar ketiga di Afrika ini adalah salah satu produsen emas terbesar di benua itu dan mencatat produksi tertinggi dalam lima tahun sebesar 70 ton pada tahun lalu.

Namun para pejabat mengatakan sebagian besar emas diselundupkan melintasi perbatasan Sudan, termasuk melalui Chad, Sudan Selatan dan Mesir sebelum mencapai UEA, eksportir emas terbesar kedua di dunia.



(dhm/dhm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads