Bagnaia Buka Suara soal Performa Jeblok di MotoGP

Bagnaia Buka Suara soal Performa Jeblok di MotoGP

Ridwan Arifin - detikSumut
Selasa, 15 Sep 2026 22:39 WIB
AUSTIN, TX - MARCH 29: Francesco Bagnaia (63) of Italy and Ducati Lenovo Team adjusts an earplug before the MotoGP Red Bull Grand Prix of the Americas on March 29, 2026, at Circuit of The Americas in Austin, Texas. (Photo by David Buono/Icon Sportswire via Getty Images)
Foto: Icon Sportswire via Getty Images/Icon Sportswire
Jakarta -

Performa Francesco Bagnaia benar-benar jeblok. Hasil yang diraih Bagnaia pun sangat kontras jika dibandingkan dengan rekan setimnya, Marc Marquez.

Melansir detikOto, Bagnaia terakhir kali meraih kemenangan di balapan utama MotoGP Jepang, Sirkuit Motegi. Bagnaia belum mencerminkan statusnya sebagai juara dunia, posisi terbaiknya hanya finis ketiga sebanyak empat kali.

Pebalap Italia ini juga kerap crash. Tercatat Bagnaia mundur dari balapan sebanyak tujuh kali, termasuk balapan utama MotoGP San Marino 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pencapaian Bagnaia sejauh ini di musim 2026 begitu kontras dengan rekan setimnya, Marc Marquez. Juara bertahan MotoGP itu telah menang lima kali musim ini walau masih memiliki masalah di bahunya.

ADVERTISEMENT

Bagnaia tidak menampik hasil buruk beruntun ini membuatnya harus menurunkan ekspektasi. Dia mengaku kesulitan di sektor pengereman dan saat menikung, dua elemen yang dulu menjadi kekuatan utamanya.

"Ini adalah nihil poin ketiga saya secara beruntun. Kami bekerja sangat keras dan tim saya melakukan segalanya agar saya nyaman, tapi sayangnya saya tidak bisa mengatasinya dan saya tidak mengerti kenapa," kata Bagnaia dikutip dari Motosan.

"Ada hal-hal yang sudah tidak bisa lagi saya lakukan, terutama pengereman saat masuk tikungan dan menikung. Saya harus menerima kenyataan, mulai dari premis bahwa level saya saat ini ada di posisi sembilan atau sepuluh, dan mulai lagi dari sana. Ada sesuatu yang hilang," tambah dia.

Di luar masalah performanya, Bagnaia juga menyoroti kesenjangan sistem pembinaan pembalap muda antara Italia dan Spanyol. Menurutnya, akses dan biaya jadi faktor utama yang bikin Spanyol lebih unggul mencetak talenta.

"VR46 Academy sudah berupaya keras dan ada pembalap-pembalap kuat yang berkembang, tapi ada perbedaan besar dalam komitmen dan sumber daya di kategori bawah. Di Spanyol, kamu bisa berlatih dengan motor 600cc atau 1000cc hampir tanpa batasan sejak usia muda; balapan di sana biayanya sangat murah," jelasnya.

"Di Italia, masuk ke sirkuit besar hampir mustahil karena tidak terjangkau semua orang dan kami kekurangan infrastruktur. Itulah kenapa banyak pembalap Italia pergi berlatih di Spanyol, karena kejuaraannya memakai motor yang identik dengan Kejuaraan Dunia dan jadi batu loncatan sempurna," tambah Bagnaia.

Meski sedang terpuruk, Bagnaia mulai menatap seri berikutnya di Austria, sirkuit yang secara historis ramah untuk Ducati sekaligus cocok dengan gaya balapnya. Namun ia tetap realistis, menyebut segalanya bergantung pada apakah kepercayaan dirinya bisa kembali.

"Ini sirkuit yang bagus untuk Ducati dan salah satu yang terbaik untuk saya. Ketika saya merasa nyaman di atas motor, saya berhasil memenangkan balapan dengan selisih signifikan, tapi sekarang semuanya akan tergantung bagaimana perasaan saya saat kami tiba di sana," pungkas Bagnaia.



(dhm/dhm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads