Penjelasan BRIN Soal Suara Dentuman-Cahaya di Langit Gorontalo

Penjelasan BRIN Soal Suara Dentuman-Cahaya di Langit Gorontalo

Tim detikSulsel - detikSumut
Senin, 14 Sep 2026 12:31 WIB
Warga di Provinsi Gorontalo digegerkan dengan kemunculan cahaya di langit yang disertai dengan dentuman keras.
Warga di Provinsi Gorontalo digegerkan dengan kemunculan cahaya di langit yang disertai dengan dentuman keras. (Foto: dok istimewa )
Gorontalo -

Fenomena suara dentuman keras yang disertai kilatan cahaya mengejutkan warga Gorontalo pada Sabtu (12/9/2026) dini hari. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 00.15 Wita tersebut diduga berkaitan dengan meteor berukuran besar.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menganalisis fenomena tersebut kemungkinan disebabkan oleh meteor berdiameter sekitar 10 meter yang memasuki atmosfer Bumi.

"Ini analisis saya penyebab suara dentuman dan cahaya terang adalah meteor besar (bola api, bollide)," ujar Koordinator Kelompok Riset (Pokris) Astronomi dan Observatorium BRIN, Thomas Djamaluddin dalam detikSulsel, Minggu (13/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Thomas menjelaskan, suara ledakan yang terdengar warga muncul akibat gelombang kejut ketika meteor melaju memasuki atmosfer dengan kecepatan yang jauh melampaui kecepatan suara. Sebagai perbandingan, kecepatan suara berada di kisaran 340 meter per detik atau sekitar 1.240 kilometer per jam.

"Sedangkan kecepatan meteor melebihi 11.000 meter/detik atau 39.600 km/jam. Gelombang kejut itulah yang menyebabkan suara dentuman dan bisa menggetarkan kaca-kaca jendela," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Meteor yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi akan mengalami gesekan dan terbakar saat menembus atmosfer. Proses tersebut menghasilkan cahaya terang yang terlihat di langit, terlebih jika ukuran meteor cukup besar.

Data dari BMKG Telaga Gorontalo mencatat adanya getaran yang terjadi sekitar pukul 00.18 Wita. Sementara itu, BMKG Kotamobagu mendeteksi getaran serupa pada pukul 00.20 Wita.

Thomas memperkirakan meteor tersebut meledak di sekitar wilayah Gorontalo pada pukul 00.15 Wita. Ledakan itu menghasilkan gelombang kejut yang memicu suara dentuman, sekaligus kilatan cahaya yang sangat terang.

"Ada kemungkinan juga waktu di CCTV warga tidak terkalibrasi seperti di sensor BMKG. Gelombang kejutnya terekam sekitar pukul 00.18 Wita di Gorontalo. Namun gelombang kejutnya masih terasa sampai Kotamobagu pada pukul 00.20 Wita," tuturnya.

Menurutnya, perbedaan waktu tersebut menjelaskan mengapa tidak ditemukan laporan serupa mengenai dentuman maupun cahaya terang di sejumlah wilayah Sulawesi Utara. Selisih sekitar dua menit diperkirakan merupakan waktu yang dibutuhkan gelombang kejut untuk merambat dari Gorontalo menuju Kotamobagu.

"Dengan membandingkan efek getarannya dengan kejadian di Bone yang disebabkan asteroid berukuran sekitar 10 meter, secara kasar meteor/asteroid penyebab dentuman dan kilatan di Gorontalo ditaksir sekitar 10 meter juga," jelasnya



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads