Pada periode September-November 2019, babi ternak di sejumlah daerah di Sumatera Utara, mati misterius. Babi mengalami demam tinggi, tak mau makan, lemas, dan kulit menjadi merah, lalu mendadak mati.
Warga geger, otoritas setempat turun tangan. Sampel berupa darah, serum, organ tubuh seperti limpa, dan air di lingkungan ternak diteliti dan diuji di laboratorium. Hasilnya, kematian babi secara bergelombang di sejumlah daerah itu diduga karena infeksi virus Hog Cholera (kolera babi) dan paparan African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika.
"Indikasi suspeknya ada, tapi kami katakan penyakit itu tidak ada di Indonesia," kata Kepala Balai Veteriner Medan saat itu, Agustia MP, di kantornya, Jl Gatot Subroto, Medan, Kamis (7/11/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kolera babi teridentifikasi pertama kali di Ohio Selatan, Amerika Serikat, pada 1830-an. Lalu menyebar ke Eropa, dan akhirnya ke Asia. Indonesia awalnya tak termasuk dalam daftar wilayah terdampak. Sedangkan flu babi Afrika (ASF), sesuai namanya, berasal dari Afrika. Pertama kali teridentifikasi di Kenya, pada tahun 1921-an. Awalnya dari babi hutan liar, lalu menyerang babi peternakan.
Kedua 'wabah' ini terjadi karena ada kontak langsung antarhewan maupun melalui perantara. Pada flu babi Afrika, ada kemungkinan sumber penyakit dibawa gigitan kutu atau serangga.
Kronologi ASF di Sumut
Kolera babi dan flu babi Afrika jadi atensi di Indonesia usai kematian ribuan babi ternak di Sumut. Berikut kronologi kejadiannya:
Agustus-September 2019
Kematian babi secara cepat dan masif terjadi di beberapa wilayah di Sumut.
Akhir September 2019
Kematian babi di Deli Serdang, Dairi, dan Humbang Hasundutan dilaporkan ke Balai Veteriner Medan
September-Oktober 2019
Bangkai babi dibuang ke sungai. Wargar resah.
November 2019
Kematian babi ternak melonjak drastis. Total, puluhan ribu ekor. Hasil uji laboratorium mengonfirmasi adanya indikasi pemyebaran virus African Swine Fever (ASF) selain virus kolera babi yang sebelumnya mendominasi.
Desember 2019
Angka kematian mencapai 37-30 ribu ekor babi di 16 kabupaten/kota di Sumut. Pemprov Sumut memberlakukan pembatasan ketat terhadapa lalu lintas perdagangan babi.
Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan sebesar Rp 1 triliun. Ini dihitung berdasarkan jumlah babi ternak yang mati, gangguan pasokan, pendapatan peternak, dan rasio perdagangan babi, termasuk di bidang ekspor daging babi.
Ancaman Tak Terlihat
Selain Sumut, flu babi Afrika kini teridentifikasi menyebar ke 32 provinsi di Indonesia. Wilayah terdampak utama di antaranya Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Papua Tengah, dan Papua. Populasi babi menyusut tajam, dari 8,9 juta pada tahun 2019, menjadi 3,7 juta pada tahun 2026.
Saat ini, kolera babi dan flu babi Afrika di Indonesia dapat ditekan dengan biosekuriti ketat. Mulai dari kebersihan kandang, lingkungan ternak, hingga pembatasan orang yang keluar masuk kandang peternakan. Meski demikian, kedua penyakit itu tetap menjadi ancaman tak terlihat. Bisa muncul kapan saja.
Karena itu langkah mitigasi perlu dan terus dilakukan. Badan Karantina Indonesia (Barantin) sebagai penjaga gerbang lalu lintas perdagangan hewan dan tumbuhan, melakukan pengawasan baik di bandara maupun pelabuhan dan titik masuk orang dan barang.
Di laman resminya, Barantin baru-baru ini memusnahkan daging babi seberat 72 kg di Jayapura Papua. Masuk melalui jalur laut dibawa penumpang kapal dari Makassar pada 22 Agustus 2026, dan tak dilengkapi dokumen. Daging babi tersebut kemudian dimusnahkan.
"Sebagai langkah pencegahan terhadap risiko masuk dan tersebarnya penyakit hewan, khususnya African Swine Fever (ASF) dan Avian Influenza (AI) atau flu burung," tulis Barantin, Sabtu (5/9/2026).
