Secangkir matcha berwarna hijau pekat kini mudah ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari minuman di kafe hingga es krim bahkan dessert. Namun, di balik warna hijau yang khas, perjalanan matcha ternyata bermula jauh sebelum minuman ini dikenal luas di Jepang.
Lalu, sebenarnya dari mana matcha berasal? Tiongkok atau Jepang? Untuk menjawabnya, perjalanan matcha perlu ditarik kembali ke masa ketika teh tidak diseduh seperti sekarang, melainkan diolah menjadi bubuk dan dicampur dengan air panas.
Dari tradisi tersebut, matcha kemudian berpindah ke Jepang dan mengalami perkembangan hingga menjadi bagian penting dari budaya minum teh Negeri Sakura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski saat ini matcha sering dikaitkan dengan Jepang, sejarah teh bubuk sebenarnya memiliki hubungan dengan Tiongkok. Teh sendiri telah dibawa dari Tiongkok ke Jepang sejak berabad-abad lalu. Dalam materi mengenai teh Jepang, MAFF mencatat bahwa teh pertama kali diperkenalkan ke Jepang dari Tiongkok dalam bentuk teh yang dipadatkan.
Pada abad ke-12, kebiasaan mengonsumsi teh bubuk mulai berkembang di Jepang. Perkembangan tersebut semakin kuat ketika seorang biksu Zen Jepang bernama Eisai kembali dari Tiongkok pada akhir abad ke-12. Ia membawa biji tanaman teh dan pengetahuan mengenai tradisi minum teh yang berkembang di lingkungan biara Zen.
Menurut Global Tea Institute dari University of California, Davis, Eisai dikenal sebagai tokoh yang membawa teh hijau dari Tiongkok ke Jepang. Eisai kemudian turut memperkenalkan manfaat dan kebiasaan minum teh kepada masyarakat Jepang.
Teh pada masa itu tidak hanya diminum sebagai minuman, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan para biksu karena dianggap dapat membantu menjaga kewaspadaan ketika bermeditasi. Dari lingkungan keagamaan, kebiasaan minum teh kemudian berkembang ke kalangan masyarakat kelas atas Jepang.
Salah satu wilayah yang kemudian terkenal dengan produksi tehnya adalah uji di Kyoto. Berdasarkan keterangan MAFF, budidaya teh di uji berkembang sejak akhir abad ke-12 setelah benih teh yang dibawa Eisai ditanam di sekitar Kyoto. Pada abad ke-15, teh Uji mulai mendapat perhatian keluarga shogun Ashikaga dan perkebunan teh mulai berkembang di wilayah tersebut.
Matcha kemudian semakin erat dengan perkembangan upacara minum teh di Jepang. Pada periode Sengoku, budaya upacara minum teh berkembang dan teknik budidaya teh dengan menaungi tanaman dari sinar matahari mulai digunakan. Teknik tersebut membantu menghasilkan daun dengan warna hijau lebih gelap dan rasa umami yang kuat, yang kemudian menjadi karakteristik penting matcha.
Dari sinilah matcha tidak lagi sekadar bubuk teh. Matcha menjadi bagian dari budaya chanoyu atau upacara minum teh Jepang yang mengutamakan ketelitian dalam menyiapkan dan menyajikan teh. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut membuat matcha memiliki nilai budaya yang lebih luas dibandingkan sekadar minuman.
Menariknya, penggunaan matcha juga tidak berhenti pada tradisi minum teh. Di wilayah Kyoto dan sekitarnya, matcha kemudian digunakan sebagai bahan dalam beberapa jenis makanan. MAFF mencatat bahwa teh Uji tidak hanya diminum, tetapi juga digunakan sebagai bahan dalam makanan dan kudapan.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya membawa matcha ke bentuk yang dikenal sekarang. Bubuk teh yang dahulu memiliki hubungan erat dengan tradisi dan kebudayaan Jepang kini dapat ditemukan dalam berbagai sajian modern, mulai dari minuman, kue, es krim hingga dessert.
Popularitas matcha saat ini memang membuatnya terlihat seperti tren baru. Padahal, di balik secangkir matcha latte yang diminum di kafe, terdapat sejarah panjang yang menghubungkan Tiongkok, Jepang, tradisi Zen, hingga budaya upacara minum teh. Matcha bukan sekadar minuman berwarna hijau, tetapi bagian dari perjalanan budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Artikel ditulis Mei, Mahasiswi PKL Universitas HKBP Nommensen di detikcom
Simak Video "Video Gempa di Jepang: Rumah Terbakar, Kereta Terguling-Mal Runtuh"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
