Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 108 per Barel

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 108 per Barel

Ignacio Geordi Oswaldo - detikSumut
Jumat, 11 Sep 2026 10:19 WIB
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas pada awal September 2026. Perselisihan kedua negara meningkat di tengah konflik dan tekanan terkait Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Iran-AS. REUTERS
Foto: REUTERS
Jakarta -

Harga minyak dunia minggu ini kembali naik dan tembus US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah menanasnya Selat Hormuz akibat memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Kenaikan harga minyak dunia ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2026. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampai dengan perdagangan Kamis (10/9), minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan global naik hingga 7,1% mencapai US$ 108 per barel sebelum ditutup pada level US$ 107,63 per barel (naik 6,34%) pada hari itu. Ini adalah level penutupan tertinggi Brent sejak 19 Mei dan lonjakan satu hari terbesar dalam enam minggu terakhir.

ADVERTISEMENT

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga sempat naik hingga 7,3% dan mencapai US$ 103 per barel, sebelum akhirnya sedikit turun dan menetap di US$ 102,48 (naik 6,69%) pada akhir perdagangan hari itu. Ini adalah level penutupan tertinggi WTI sejak 19 Mei dan lonjakan satu hari terbesar dalam dua bulan terakhir.

"Meningkatnya serangan di Selat Hormuz dan oleh Houthi terhadap Arab Saudi menunjukkan bahwa Iran dan proksinya sedang berupaya merebut kembali inisiatif dalam perang. Hal ini dapat menghambat pemulihan produksi minyak di Teluk dan meningkatkan risiko kenaikan harga energi global lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang," kata Wakil Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, Jason Tuvey dikutip dari CNN, Jumat (11/9/2026).

Senada, untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, S&P Global Energy memperkirakan produksi minyak Timur Tengah tidak kembali ke tingkat sebelum perang pada akhir tahun depan. Kini perusahaan tersebut tidak lagi berasumsi bahwa perang akan berakhir secara pasti atau situasi di Selat Hormuz akan kembali normal pada akhir 2027.



(astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads