Gumpalan rambut ditemukan di perut gadis berusia 16 tahun setelah dating ke IGD salah satu rumah sakit, Amerika Serikat (AS). Gadis tersebut dating ke rumah sakit setelah mengalami muntah-muntah.
Dokter menyebut gumpalan rambut diketahui berdasarkan hasil CT scan. Kondisi ini disebut dengan trichobezoar.
"Pasien kami tidak memenuhi kriteria untuk gangguan suasana hati apa pun, serta mencapai tahapan perkembangan yang normal dan tetap sepenuhnya tanpa gejala hingga terjadi penyumbatan total pada saluran gastrointestinal," tulis para dokter dalam laporan medis tersebut, dikutip detikHealth dari ScienceAlert.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dokter, peristiwa yang dialami gadis tersebut termasuk fenomena langka. Dalam kasus ekstrem dan sangat jarang terjadi, gumpalan rambut tersebut dapat memanjang hingga akhirnya disebut Sindrom Rapunzel.
Pasien tersebut tidak memiliki riwayat gangguan mental, serta tidak menunjukkan kebotakan atau kerontokan. Kebotakan menjadi petunjuk adanya kondisi trikotilomania, dorongan kompulsif untuk mencabut rambutnya sendiri.
Gumpalan rambut yang cukup besar itu tidak bisa dikeluarkan menggunakan endoskop. Dokter lantas memutuskan untuk melakukan operasi untuk mengeluarkannya.
Setelah menjalani operasi, pasien mengungkapkan kepada dokter bahwa ia telah mulai mencabuti rambutnya sendiri dan memakannya sekitar dua tahun sebelumnya. Namun, perilaku tersebut hanya dilakukan sekitar sekali dalam seminggu, dengan hanya mencabut sekitar tiga helai rambut setiap kali melakukannya.
Hal ini kemungkinan menjadi alasan mengapa kebiasaan tersebut tidak diketahui sebelumnya. Secara keseluruhan gumpalan rambut tersebut berukuran 21,2 x 15,8 x 7,7 cm dan berat totalnya sekitar 1,5 kg.
Selain kebiasaan mencabut dan memakan rambut, pasien menyangkal adanya pemicu stres, penelantaran, trauma, atau kekerasan yang baru-baru ini dialaminya. Ia juga tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan lainnya.
Namun, pasien diketahui mengalami serangan migrain yang disertai muntah siklik sejak usia dini. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani homeschooling.
Stigma sosial dan rasa malu yang berkaitan dengan trikotilomania dan trikofagia, kebiasaan memakan rambut, membuat pasien sering berusaha keras menyembunyikan perilaku kompulsif tersebut.
"Mengingat trichobezoar berpotensi menyebabkan kondisi yang sangat berbahaya dan terkadang bahkan dapat berakibat fatal, penting untuk tidak mengabaikan kemungkinan diagnosis ini pada remaja perempuan yang mengalami mual, muntah, atau nyeri perut, meskipun tidak terdapat kerontokan rambut yang terlihat maupun gangguan kejiwaan yang menyertai," ungkap dokter dalam laporannya.
Setelah menjalani operasi, pasien diberikan sertraline, obat yang digunakan untuk menangani kecemasan, depresi, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Ia juga dirujuk untuk menjalani terapi perilaku kognitif (CBT) sebelum diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
