Makna Haji Mabrur dan Ciri-Cirinya

Devi Setya - detikSumut
Minggu, 06 Sep 2026 07:30 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/Dian Widyatmoko
Medan -

Menjadi seorang muslim yang memperoleh haji mabrur merupakan harapan bagi setiap jemaah yang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa haji mabrur memiliki kedudukan dan keutamaan yang besar.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai amalan yang paling utama. Beliau menyebut keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad di jalan Allah, dan setelah itu haji yang mabrur.

Dalam hadis dari AbuHurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya,

"Amalan manakah yang lebih utama?" Beliau menjawab, "Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Lalu beliau ditanya lagi, "Kemudian apakah?" Beliau menjawab, "Jihad fi-sabilillah." Masih ditanya lagi, "Kemudian apakah?" Beliau menjawab, "Haji yang mabrur." (Muttafaq 'alaih)

Pengertian Haji Mabrur

Secara umum, haji mabrur dapat dipahami sebagai ibadah haji yang diterima dan mendapatkan rida Allah SWT. Kemabruran tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan seluruh rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat, tetapi juga terlihat dari perubahan sikap dan perilaku seseorang setelah kembali dari Tanah Suci.

Dilansir detikHikmah dari buku Kamus Kecil Karakter Islami karya H. Brilly El-Rasheed, Ibnu Khalawih mendefinisikan haji mabrur sebagai haji yang diterima. Sementara ulama lainnya menjelaskan bahwa haji mabrur merupakan ibadah haji yang tidak tercampur dengan perbuatan dosa.

Para ulama fikih menjelaskan bahwa haji mabrur adalah ibadah yang selama pelaksanaan manasiknya tidak disertai kemaksiatan. Sementara Al-Farra' memberikan pandangan bahwa salah satu gambaran kemabruran haji dapat terlihat ketika seseorang tidak lagi gemar melakukan maksiat setelah pulang dari Tanah Suci.

Al-Hasan Al-Bashri dan Al-Qurthubi mengatakan, "Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat."

Dengan demikian, ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan menuju Tanah Suci untuk menjalankan berbagai ritual. Lebih dari itu, haji menjadi momentum bagi seorang muslim untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus memperbaiki perilaku dan akhlaknya.

Keutamaan haji mabrur juga disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Dalam hadits dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan surga." (Muttafaq 'alaih)

Ciri-ciri Haji Mabrur

Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan dengan mutlak bahwa ibadah hajinya telah diterima oleh Allah SWT. Kendati demikian, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi indikator bahwa seseorang mendapatkan kebaikan dan keberkahan dari ibadah hajinya.

Dikutip dari buku Kitab I'tikaf dan Kitab Zikir-zikir karya Imam Abu Zakaria Yahya dkk, sebuah hadits menyebutkan,

عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya: Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga." Lalu sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?" Rasulullah SAW menjawab, "Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik." (HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi)

Hadis tersebut menggambarkan bahwa kemabruran haji tidak hanya berkaitan dengan ritual ibadah, tetapi juga tercermin dalam hubungan seseorang dengan orang lain. Sikap gemar berbagi makanan dan menjaga perkataan menjadi salah satu tanda yang disebutkan dalam hadis.

Ada pula hadis lain yang menjelaskan keadaan seseorang setelah menjalankan haji dengan baik dan menjauhi perbuatan dosa:

وَعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقولُ منْ حَجَّ فَلَم يُرْفُتْ وَلَم يَفْسُقُ رَجَعَ كَيَومِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ متفق عليه

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak pula mengerjakan dosa yakni kemaksiatan besar atau yang kecil tetapi berulang kali, maka ia akan kembali dari ibadah hajinya itu sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya yakni tidak ada dosa dalam dirinya sama sekali." (Muttafaq 'alaih)

Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan haji yang dijalankan dengan menjauhi perbuatan dosa dan kelalaian. Karena itu, salah satu hal penting setelah menunaikan haji adalah mempertahankan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a'lam.



Simak Video " Video Jemaah Haji Gelombang II Mulai Tinggalkan Makkah"

(nkm/nkm)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork