Sederet Kesalahan yang Membuat Ibadah Haji Seseorang Jadi Tak Mabrur

Sederet Kesalahan yang Membuat Ibadah Haji Seseorang Jadi Tak Mabrur

Hanif Hawari - detikSumut
Rabu, 22 Apr 2026 05:01 WIB
Kaaba in mecca during hajj season
Foto: Ilustrasi ibadah haji. (Getty Images/iStockphoto/Dian Widyatmoko)
Jakarta -

Setiap umat muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial, diwajibkan untuk melaksanakan rukun Islam kelima yakni haji. Ibadah tersebut jadi momen istimewa yang bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, tidak semua ibadah haji yang dikerjakan berakhir dengan predikat mabrur. Justru ada pula yang tergolong haji mardud, yakni haji yang tidak diterima oleh Allah SWT karena adanya kesalahan dalam pelaksanaannya.

Haji Bisa Tidak Mabrur

Dilansir detikHikmah dari buku Dakwah Bil Qolam, Mohammad Mufid menjelaskan ibadah haji yang dikerjakan dapat menjadi tidak mabrur atau mardud apabila saat melaksanakan rukun Islam kelima tersebut tercampur dengan hal-hal yang diharamkan atau disertai perbuatan maksiat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendapat itu diperkuat Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Haj yang diterjemahkan oleh Mujiburrahman. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah menggambarkan kondisi seseorang yang berhaji dengan cara yang tidak benar:

"Barang siapa datang ke Baitullah karena pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT. Apabila ia bersiap berangkat, kedua kakinya menaiki kendaraan, kemudian kendaraannya berjalan dan ia berkata, 'Labbaika Allahumma Labbaik (Kami datang menyambut panggilan-Mu ya Allah, kami datang menyambut panggilan-Mu),' maka malaikat berseru dari langit menjawab, 'Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Pekerjaanmu haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud (ditolak), bukan haji mabrur (diterima), dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk."

ADVERTISEMENT

Hadits ini menegaskan bahwa ibadah haji tidak hanya soal ritual. Akan tetapi turut menyangkut kehalalan niat, bekal, dan perilaku selama menjalankannya.

Sejumlah Kesalahan yang Membuat Haji Tidak Mabrur

Berikut ini ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan jemaah sehingga hajinya tidak mencapai derajat mabrur, yang dikutip dari buku Ensiklopedia Haji & Umrah karya KH Ahmad Chodri Romli:

  • Niat yang Tidak Lurus
    Misalnya berhaji demi gengsi, pencitraan, ingin dipuji, atau mengejar status sosial.
  • Tidak Mengikuti Tuntunan Syariat
    Seperti enggan mempelajari manasik haji atau tidak mengikuti bimbingan yang benar.
  • Masih Melakukan Maksiat
    Kebiasaan buruk tetap dilakukan, bahkan saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Tanda-tanda Haji Belum Mabrur

Dalam beberapa hadits dijelaskan ciri haji mabrur, di antaranya riwayat Imam Ahmad. Dalam musnadnya yang dikutip dari buku 65 Kultum Kamtibmas karya Syarif Hidayatullah, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?" Rasulullah menjawab, "Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian."

Disebutkan juga dalam riwayat lain bahwa haji mabrur ditandai dengan sikap santun dalam berkata. Jika seseorang usai melaksanakan rukun Islam kelima tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, maka hajinya kemungkinan belum mabrur.

"Dari Jabir RA, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda: Memberikan makanan dan santun dalam berkata." (HR al-Hakim dan al-Baihaqi: Hadits ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim)

"Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga kotor." (HR At-Tirmidzi)

Berikut tanda-tanda seseorang hajinya tidak mabrur:

1. Tidak Menjaga Lisan

Seseorang yang hajinya belum mabrur cenderung tidak mampu menjaga ucapannya, masih berkata kasar, atau menyakiti orang lain. Padahal, haji yang diterima akan membentuk pribadi yang lebih santun.

2. Minim Kepedulian Sosial

Haji mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang peduli terhadap sesama, seperti gemar membantu dan berbagi. Jika sikap ini tidak muncul, maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ibadah hajinya belum optimal.

3. Menebarkan Kebencian

Alih-alih membawa kedamaian, ia justru memicu konflik, menyebarkan kebencian, atau memperkeruh hubungan sosial. Ini bertentangan dengan nilai haji yang mengajarkan persatuan dan kasih sayang.

Untuk itu penting bagi setiap muslim agar tidak hanya fokus pada pelaksanaan ritual ibadah haji. Namun juga bisa menjaga hati dan perilaku agar terhindar dari haji mardud.

Wallahu a'lam.

Artikel ini telah tayang di detikHikmah, baca selengkapnya di sini

Halaman 2 dari 2


Simak Video " Video Jemaah Haji Gelombang II Mulai Tinggalkan Makkah"
[Gambas:Video 20detik] (mjy/mjy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads