Waduk Tempan di Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau (Kepri), mengalami kekeringan parah. Ketinggian air di sekitar pipa intake kini berada di bawah 30 sentimeter sehingga Perumda Tirta Mulia Karimun terpaksa menghentikan sementara produksi dan distribusi air bersih kepada pelanggan.
Direktur Perumda Tirta Mulia Karimun Ferry Kurniawan mengatakan Waduk Tempan merupakan sumber air baku bagi pelanggan Perumda di wilayah Cabang Tanjung Batu, Kundur. Saat kondisi normal, kedalaman air di waduk tersebut mencapai 3 hingga 4 meter.
"Kondisi waduk yang terparah adalah Waduk Tempan. Waduk Tempan merupakan sumber air untuk pelanggan di wilayah Cabang Tanjung Batu Kundur. Terdapat 809 pelanggan di sana," kata Ferry, Jumat (4/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi air di sekitar pipa intake saat ini sudah berada di bawah 30 sentimeter. Kondisi tersebut membuat air tidak lagi dapat diproduksi untuk kebutuhan pelanggan.
"Luas waduk 22.770 hektare. Saat normal ketinggian mencapai 3-4 meter kedalamannya. Saat ini terpaksa diberhentikan karena tidak dapat lagi diproduksi," ujarnya.
Ferry menjelaskan penurunan debit air di Waduk Tempan telah terjadi sejak Juni 2026. Memasuki Agustus, Perumda mulai menerapkan sistem distribusi air secara bergiliran untuk mengantisipasi semakin menipisnya sumber air baku.
Namun, kondisi tersebut terus memburuk hingga akhirnya distribusi air harus dihentikan sementara sejak 2 September 2026.
"Sejak 2 September lalu sudah dihentikan. Penurunan sudah sejak bulan Juni lalu. Sampai Agustus kami mulai mendistribusikan secara bergiliran, hingga September pada akhirnya kami harus memberhentikan sementara," ujarnya.
Kekeringan tidak hanya menjadi perhatian di Waduk Tempan. Perumda Tirta Mulia juga memantau kondisi Waduk Layang di Kecamatan Sawang yang menjadi sumber air bagi sekitar 400 pelanggan di wilayah Cabang Kundur Barat.
Meski mengalami penurunan, kondisi Waduk Layang saat ini masih relatif lebih baik dibandingkan Waduk Tempan. Penurunan ketinggian air di Waduk Layang masih berada di bawah satu meter.
"Namun untuk saat ini penurunan masih di bawah 1 meter. Curah hujan untuk wilayah Sawang cukup tinggi dibanding Tempan. Namun perlu antisipasi juga. Jika dalam dua bulan ini tidak ada hujan, maka bisa berpotensi mengering," jelas Ferry.
Ferry memastikan pelanggan yang terdampak penghentian sementara distribusi air tidak akan dikenakan pembayaran selama layanan tidak berjalan.
Menurutnya, kebijakan tersebut diberlakukan karena kondisi yang terjadi merupakan dampak bencana kekeringan. Perumda tidak akan membebankan biaya kepada pelanggan meskipun terdapat biaya abonemen.
"Tidak, pelanggan tidak dibebani pembayaran. Meskipun kita ada abonemen, namun karena ini bencana kita tidak memungutnya," tuturnya.
Namun, setelah distribusi air kembali dibuka dan ketersediaan air sudah mencukupi, Perumda akan melakukan pencatatan terhadap pemakaian pelanggan sebelumnya.
"Tapi nanti setelah dibuka kembali dan air sudah banyak, kita catat pemakaian sebelumnya," tambahnya.
Terkait solusi, Ferry mengatakan hingga saat ini belum ada langkah yang benar-benar pasti untuk mengatasi kekeringan di Waduk Tempan. Perumda saat ini berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Karimun untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah operasi modifikasi cuaca. Namun, pengajuan operasi tersebut harus dilakukan oleh pemerintah daerah kepada pemerintah pusat.
"Untuk operasi modifikasi cuaca itu harus diajukan dulu oleh pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Pelaksananya adalah BPBD dan BNPB," kata Ferry.
Menurutnya, pemerintah pusat nantinya akan melakukan penilaian untuk menentukan apakah kondisi suatu daerah masuk kategori ekstrem sehingga membutuhkan operasi modifikasi cuaca.
Pengajuan tersebut akan didasarkan pada koordinasi antara BPBD Kabupaten Karimun, BMKG, dan Perumda Tirta Mulia Karimun.
Saat ini, Perumda tengah mengumpulkan data historis serta kondisi terkini Waduk Tempan untuk diserahkan kepada BPBD Kabupaten Karimun. Data tersebut nantinya menjadi bagian dari proposal yang diajukan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat.
"Perumda sedang mengumpulkan data historis dan kondisi Waduk Tempan ke BPBD Kabupaten Karimun, untuk dijadikan proposal yang ditujukan ke pemerintah pusat," ujarnya.
