Presiden Iran Pastikan Negaranya Sedang Perang Skala Penuh

Internasional

Presiden Iran Pastikan Negaranya Sedang Perang Skala Penuh

Yulida Medistiara - detikSumut
Senin, 24 Agu 2026 03:00 WIB
In this handout picture provided by Iranian presidency, Irans President Masoud Pezeshkian addresses cabinet members, as they visit of the tomb of the late Iranian revolutionary leader Ayatollah Ruhollah Khomeini, in Tehran on January 31, 2026, ahead of the 47th anniversary of the 1979 Islamic Revolution. (Photo by Handout / Iranian Presidency / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: AFP PHOTO/IRANIAN PRESIDENCY)
Jakarta -

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui masyarakat negaranya saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan. Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat kembali menjatuhkan serangkaian sanksi baru yang ditujukan untuk memperketat tekanan dan mengisolasi perekonomian Iran.

"Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kami berupaya mencegah hal-hal tersebut semaksimal mungkin," ujar Pezeshkian dalam pidatonya yang disiarkan televisi pemerintah, dilansir detikNews dari AFP, Minggu (23/8/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah pemerintah Amerika Serikat menyatakan tekadnya untuk mengguncang rezim Iran melalui penerapan kampanye sanksi terbaru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pezeshkian menilai kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump telah menempatkan Iran dalam situasi yang semakin sulit. Menurutnya, Iran kini menghadapi tekanan dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga militer dan keamanan.

"Dia mengatakan sedang menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan dan mengerikan terhadap Iran," kata Pezeshkian.

ADVERTISEMENT

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran berupaya menangani berbagai persoalan domestik yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

"Kami berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi inflasi, masalah penghidupan, pengangguran, serta menjamin masa depan rakyat, agar mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penuh kebanggaan," ujar Pezeshkian.

Persoalan ekonomi sebelumnya juga menjadi salah satu pemicu gelombang demonstrasi di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Inflasi yang tinggi serta ketidakstabilan nilai tukar telah menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan beban kehidupan sehari-hari.

Pada penghujung Desember tahun lalu, aksi yang semula dipicu persoalan meningkatnya biaya hidup kemudian berkembang menjadi demonstrasi dalam skala besar. Dalam perkembangannya, massa juga menyuarakan kritik terhadap pemerintah dan pihak yang berkuasa.

Otoritas Iran melaporkan bahwa lebih dari 3.000 orang meninggal dunia selama kerusuhan tersebut. Pemerintah Iran juga menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi kekerasan yang terjadi.

Di sisi lain, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di luar Iran memberikan versi berbeda. Mereka menuding aparat keamanan melakukan tindakan represif secara luas dalam menangani demonstrasi, yang disebut menyebabkan ribuan orang kehilangan nyawa.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads