Seluruh Penguin di Kebun Binatang Jepang Ini Mati Akibat Digigit Nyamuk Malaria

Seluruh Penguin di Kebun Binatang Jepang Ini Mati Akibat Digigit Nyamuk Malaria

Bonauli - detikSumut
Selasa, 18 Agu 2026 04:00 WIB
4 Penguin di Kebun Binatang Yagiyama mati karena malaria
Foto: Ilustrasi Penguin. (Yagiyama Zoological Park in Sendai)/Kyodo)
Jakarta -

Semua penguin yang menjadi penghuni Kebun Binatang Yagiyama di Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang, mati mendadak. Hal itu menjadi kabar duka yang mendalam bagi kebun binatang tersebut.

Dilansir detikTravel dari Japan Today, Senin (17/8/2026), keempat penguin Humboldt yang menjadi peliharaan kebun binatang itu mati karena malaria burung.

Pihak Kebun Binatang Yagiyama lalu menugaskan Universitas Iwate untuk menyelidiki penyebab kematian burung-burung tersebut. Diketahui, kematian dimulai dari seekor penguin jantan bernama Aramasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, empat penguin yang tersisa satu persatu mati sejak tanggal 9 hingga 19 Juli. Menurut penyelidikan, tidak satu pun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda penyakit hingga sehari sebelum kematian mereka.

Universitas Iwate mengungkapkan bahwa empat penguin ini mati akibat terkena penyakit malaria burung. Penyakit yang ditularkan nyamuk ini tidak menular ke manusia.

ADVERTISEMENT

Dalam beberapa kasus, penyakit malaria burung dapat berkembang dengan cepat dari tanpa gejala hingga kematian.

Meski kini tidak lagi memiliki spesies penguin, kebun binatang tersebut belum ada berencana mendatangkan penguin baru. Pihak pengelola saat ini masih melakukan langkah-langkah pencegahan dengan mendesain ulang kandang untuk mencegah terbentuknya genangan air tempat nyamuk berkembang biak.

Penguin Humboldt (Spheniscus humboldti) adalah spesies penguin berukuran sedang yang berasal dari pesisir Pasifik Chile dan Peru yang gersang dan hangat. Nama penguin ini diambil dari Arus Humboldt, yaitu arus laut dingin dan kaya nutrisi tempat mereka biasa berenang dan berburu.

Jenis penguin ini memiliki garis hitam tebal di dada dan pola putih berbentuk huruf 'C' di kepala. Perut putih mereka dihiasi bintik hitam yang unik pada setiap individu yang berfungsi persis seperti sidik jari manusia.

Berbeda dari penguin Antartika, penguin ini tidak hidup di es. Mereka bersarang di tebing berbatu dan menggali terowongan di dalam tumpukan kotoran burung kering (guano) sebagai rumah.

Artikel ini telah tayang di detikTravel, baca selengkapnya di sini



(mjy/mjy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads