Remaja Ini Kehilangan Pendengaran gegara Kelamaan Dengar Suara Jangkrik

Remaja Ini Kehilangan Pendengaran gegara Kelamaan Dengar Suara Jangkrik

Elmy Tasya Khairally - detikSumut
Senin, 10 Agu 2026 10:40 WIB
ilustrasi telinga
Ilustrasi telinga (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Seorang remaja berusia 18 tahun di China mengalami gangguan pendengaran sementara setelah terpapar suara dengung jangkrik selama berjam-jam.

Remaja bernama Yang, warga Ningbo, Zhejiang, itu dilaporkan pergi berkemah di kawasan hutan pada awal Juli lalu, sebagaimana dikutip detikHealth dari Shandian News.

Saat berada di hutan pada siang hari, Yang mendengar suara jangkrik yang sangat nyaring. Meski tidak menggunakan pelindung atau peredam suara, ia tetap berada di lokasi tersebut selama sekitar empat jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada malam harinya, Yang mulai merasakan telinganya terasa penuh dan membengkak. Ia juga mengalami kesulitan mendengar suara bernada tinggi, seperti suara burung berkicau maupun bunyi notifikasi ponsel.

Dikutip detikHealth dari SCMP, setelah menjalani pemeriksaan medis, Yang didiagnosis mengalami gangguan pendengaran sementara akibat paparan kebisingan. Kondisinya kembali normal setelah menjalani perawatan dan menghindari lingkungan bising selama 14 hari.

ADVERTISEMENT

Dokter senior Departemen Otolaringologi RS Afiliasi No. 1 Ningbo University, Li Ji, mengungkapkan bahwa setiap musim panas pihaknya menerima banyak pasien yang terpapar suara jangkrik.

"Banyak orang keliru percaya bahwa suara alam tidak berbahaya bagi telinga mereka," kata Li.

Ia menjelaskan bahwa suara satu ekor jangkrik umumnya berada di kisaran 70 desibel dan masih tergolong aman bagi telinga manusia. Namun, suara jangkrik dalam jumlah besar dapat mencapai 85 desibel, yang merupakan ambang batas awal terjadinya kerusakan pendengaran akibat kebisingan.

"Sel-sel rambut di koklea dapat mengalami edema akibat iritasi dari suara keras dalam durasi yang relatif singkat. Biasanya, sel-sel tersebut pulih setelah menghindari lingkungan yang bising dan beristirahat selama 1-2 minggu," ujar Li.

Ia menambahkan bahwa kerusakan yang lebih berat dapat menimbulkan gangguan permanen.

"Namun, jika sel-sel rambut mengalami nekrosis, sel-sel tersebut tidak dapat beregenerasi. Gangguan pendengaran yang dihasilkan bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan, sehingga pasien harus bergantung pada alat bantu dengar untuk membantu pendengaran," tambahnya.

Li juga menceritakan kasus lain yang dialami seorang tukang kebun berusia lebih dari 60 tahun bernama Liu. Selama 12 tahun terakhir, Liu memangkas pohon setiap hari pada periode Juni hingga Agustus sehingga terus-menerus terpapar suara jangkrik yang sangat keras.

Akibat paparan berkepanjangan tersebut, Liu mengalami telinga berdenging dan kesulitan mendengar percakapan dengan nada rendah. Menurut Li, kondisi Liu merupakan gangguan pendengaran permanen akibat paparan kebisingan dalam jangka panjang.



(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads