India Timur Direndam Banjir, 97 Orang Tewas Terkubur Lumpur

Internasional

India Timur Direndam Banjir, 97 Orang Tewas Terkubur Lumpur

Rita Uli Hutapea - detikSumut
Sabtu, 08 Agu 2026 20:30 WIB
Men push a bike through a flooded road during heavy rains in New Delhi, India, July 9, 2026. REUTERS/Anushree Fadnavis
Foto: REUTERS/Anushree Fadnavis
Jakarta -

Negara bagian Assam, India Timur, India, direndam banjir. 97 orang dilaporkan tewas akibat tertimbun lumpur.

Bencana alam kali ini disebut menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir tersebut. Dilansir detikNews dari kantor berita AFP, Sabtu (8/8/2026), 170.000 orang terdampak bencana tersebut.

Selain itu, air banjir telah menenggelamkan lebih dari 14.000 hektar lahan pertanian. Seorang jurnalis AFP melihat rumah-rumah yang setengah terendam, pohon-pohon yang tumbang, dan kendaraan yang terkubur di bawah lumpur di seluruh distrik Sivasagar yang paling parah terkena dampak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, mengunggah video pada hari Jumat, yang memperlihatkan dirinya menghibur orang tua seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang meninggal saat mencoba menyelamatkan anjing peliharaannya dari banjir.

"Tidak ada orang tua yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada anak mereka," tulisnya.

ADVERTISEMENT

Menteri Kesehatan India, J.P. Nadda, yang mengunjungi wilayah yang dilanda banjir pada hari Kamis lalu, mengatakan skala kehancurannya "sangat besar sehingga akan membutuhkan waktu" untuk memulihkan keadaan.

"Desa demi desa telah terendam," katanya kepada wartawan.

Banjir sering terjadi di Assam selama musim hujan Juni-September karena Sungai Brahmaputra -- sungai terbesar di India -- dan banyak anak sungainya meluap.

Namun, para ahli mengatakan bahwa perubahan iklim, ditambah dengan pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik, telah meningkatkan frekuensi, keparahan, dan dampak bencana alam tersebut.

Warga dan pejabat menyalahkan penambangan batubara ilegal di negara bagian Nagaland yang bertetangga atas memburuknya banjir. Disebutkan bahwa penambangan itu telah berdampak pada daerah-daerah yang secara historis tidak rawan banjir.

Kelompok advokasi Climate Trends mengatakan peningkatan keparahan banjir di negara bagian tersebut "disebabkan oleh interaksi pemanasan global, perubahan dinamika sungai, dan meningkatnya paparan manusia, yang membuat banjir lebih sering terjadi, lebih kompleks, dan lebih parah".



(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads