Kabar Duka dari PLG Minas, Gajah Binaan Jovi Mati Usai Dirawat Intensif 34 Hari

Riau

Kabar Duka dari PLG Minas, Gajah Binaan Jovi Mati Usai Dirawat Intensif 34 Hari

Raja Adil Siregar - detikSumut
Selasa, 04 Agu 2026 11:39 WIB
Proses penanganan medis Gajah Jovi .
Foto: Proses penanganan medis Gajah Jovi. (dok. BBKSDA Riau)
Pekanbaru -

Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia, khususnya Provinsi Riau. Gajah binaan di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas bernama Jovi (46), dinyatakan mati malam tadi.

Gajah tersebut mati setelah proses penanganan medis selama 34 hari terakhir. Gajah Jovi mati tepat pukul 20.47 WIB tadi malam setelah ditangani tim dokter hewan Balai Besar KSDA Riau.

Gajah jantan dewasa yang telah berjasa besar membantu penanganan berbagai konflik manusia dan komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat (myopathy).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Plh Kepala Balai Besar KSDA Riau, Ujang Holisudin menyebut bahwa gejala sakit mulai terlihat pada 1 Juli 2026. Saat itu gajah Jovi menunjukkan kondisi kelemahan umum.

"Gajah Jovi tidak nafsu makan, tremor (kejang), kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor. Bahkan mengalami kesulitan untuk berdiri," kata Ujang, Selasa (4/8/2026).

ADVERTISEMENT

Sejak awal munculnya gejala, tim medis BBKSDA Riau langsung turun melakukan penanganan secara intensif sesuai standar operasional dan prosedur (SOP) pelayanan kesehatan satwa. Bahkan menberikan obat dan pengawasan selama 24 jam.

"Tindakan medis yang diberikan meliputi terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium secara berkala," kata Ujang.

Sementara Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, menjelaskan bahwa selama masa perawatan kondisi Gajah Jovi sempat menunjukkan perkembangan. Kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor mulai berkurang, nafsu makan perlahan membaik

"Bahkan pada hari keenam perawatan gajah sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Hasil pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan secara berkala menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah mendapatkan terapi," kata drh Rini.

Meskipun respons terhadap pengobatan sempat terlihat, kondisi otot Gajah Jovi terus mengalami penurunan hingga berkembang menjadi myopati berat, yaitu gangguan pada jaringan otot yang menyebabkan gajah kembali tidak mampu berdiri. Selama menjalani perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairan terus dipenuhi melalui pemberian pakan khusus serta terapi infus intensif.

Dalam menangani kasus ini, BBKSDA Riau tidak bekerja sendiri. Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan mengoordinasikan diskusi dan konsultasi teknis bersama dokter hewan dari berbagai unit lingkup Kementerian Kehutanan guna memperoleh masukan dan pertimbangan medis terbaik dalam penanganan Gajah Jovi.

Hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium darah dan gejala yang muncul selama masa perawatan tim medis menduga Gajah Jovi mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan. Termasuk saluran pernapasan bagian atas yang berkembang hingga menyebabkan myopati berat.

Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, setelah Gajah Jovi dinyatakan mati, tim medis segera melakukan nekropsi serta pengambilan sampel organ dan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.



(ras/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads