Dilema Suami Mana yang Harus Didahulukan Istri atau Ibu? Ini Menurut Islam

Dilema Suami Mana yang Harus Didahulukan Istri atau Ibu? Ini Menurut Islam

Hanif Hawari - detikSumut
Sabtu, 01 Agu 2026 08:30 WIB
Family blessing during raya celebration
Foto: Getty Images/rudi_suardi
Medan -

Tak sedikit pria yang pernah berada di posisi serba salah ketika ibu dan istri sama-sama membutuhkan perhatian di waktu yang bersamaan. Di satu sisi ada sosok yang telah melahirkan dan membesarkannya, sementara di sisi lain ada pasangan hidup yang menjadi amanah setelah akad pernikahan.

Lalu, siapa yang sebenarnya harus didahulukan menurut ajaran Islam? Pertanyaan ini kerap memicu perdebatan karena banyak orang mengira Islam mengharuskan suami memilih salah satu.

Padahal, syariat justru mengajarkan keseimbangan antara berbakti kepada orang tua dan memenuhi hak pasangan. Kesalahan memahami prioritas inilah yang sering menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga maupun hubungan dengan keluarga besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana pandangan Islam ketika kepentingan ibu dan istri berbenturan? Apakah suami wajib selalu mengutamakan ibunya, atau justru mendahulukan istrinya dalam kondisi tertentu? Simak penjelasan lengkap berdasarkan ajaran Islam agar tidak keliru mengambil sikap saat menghadapi dilema tersebut.

ADVERTISEMENT

Memahami Makna dan Hakikat Nafkah

Dikutip detikHikmah, dalam Islam, nafkah secara etimologi berasal dari bahasa Arab anfaqa-yunfiqu-infaqan yang bermakna pengeluaran atau pembelanjaan. Secara terminologi, nafkah merujuk pada kewajiban materi berupa harta yang wajib diserahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok demi kelangsungan hidup, meliputi sandang, pangan, dan papan.

Dalam buku Konsep Nafkah Keluarga dalam Islam karya Husni Fuaddi dan Nurhadi, dijelaskan bahwa nafkah memiliki konotasi materi secara eksplisit. Sementara kebutuhan nonmateri, seperti pemenuhan kebutuhan biologis atau batiniah, tidak tergolong dalam definisi nafkah secara teknis, meskipun tetap menjadi kewajiban suami.

Kewajiban menafkahi anak dan istri dipayungi secara jelas dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 233:

"...Dan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya..." (QS. Al-Baqarah: 233)

Di sisi lain, kewajiban seorang anak laki-laki untuk berbakti dan menyokong orang tuanya-terutama ketika mereka telah berlanjut usia-juga ditegaskan dalam surah Al-Isra ayat 23. Perintah ini menuntut seorang anak untuk berbuat baik dan merawat orang tua dengan tutur kata serta sikap yang penuh rasa hormat.


Mana yang Harus Didahulukan Istri atau Ibu?

Secara prinsip, pemenuhan kebutuhan istri dan orang tua yang sudah tidak mampu idealnya berjalan beriringan. Laki-laki memikul amanah besar untuk memastikan kedua belah pihak mendapatkan hak dan pemuliaan yang layak. Namun, bagaimana jika kondisi finansial tidak memungkinkan untuk memenuhi keduanya secara maksimal?

Pendakwah kondang Mamah Dedeh memberikan pandangannya terkait dilema ini. Menurutnya, suami harus berupaya memuliakan kedua belah pihak. Namun, jika kemampuan ekonomi suami terbatas, nafkah untuk istri dan anak tetap harus diprioritaskan.

"Kalau laki-laki duitnya seret, kalau saetik (sedikit), dahulukan istri, tapi perhatikan orang tuanya. Tapi kalau seandainya istri butuh, orang tua butuh, tidak ada salahnya bagi sedikit," ujar Mamah Dedeh, dikutip dari InsertLive.

Kebijaksanaan dan komunikasi yang transparan menjadi kunci utama dalam mengelola situasi ini. Memberikan perhatian materi kepada orang tua adalah bentuk bakti yang mulia, tetapi kewajiban pokok terhadap anak dan istri tidak boleh terabaikan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, KH Muhammad Faiz Syukron. Ia menekankan pentingnya membangun pemahaman bersama di dalam keluarga agar tidak timbul prasangka.

"Yang terbaik adalah memberikan nafkah kepada istri juga mengajarkan kepada istri bahwa berbakti kepada orang tua, apalagi itu seorang ibu, adalah kunci meraih ridho Allah SWT," jelas KH Muhammad Faiz Syukron, dikutip dari CNN Indonesia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Bukan Ditiup, Ini Anjuran Ulama untuk Dinginkan Makanan Panas"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads