Takut Angka Kelahiran Turun, China Larang Warganya Pacaran dengan AI

Internasional

Takut Angka Kelahiran Turun, China Larang Warganya Pacaran dengan AI

Panji Saputro - detikSumut
Sabtu, 25 Jul 2026 01:01 WIB
Ilustrasi patah hati
Foto: Thinkstock
Jakarta -

China menerapkan regulasi baru yang melarang layanan pacaran berbasis kecerdasan buatan (AI) berkembang tanpa batas. Kebijakan tersebut diterbitkan oleh Administrasi Ruang Siber China (CAC) sebagai upaya membatasi interaksi emosional antara manusia dan AI.

Kebijakan ini langsung memicu reaksi di media sosial China. Penghentian sejumlah layanan pendamping atau kekasih virtual berbasis AI membuat banyak pengguna mengunggah curahan hati layaknya mengalami putus cinta. Tak sedikit yang mengaku merasa sedih dan kehilangan.

"Aku tak bisa menerima bahwa kekasih AI-ku akan meninggalkanku selamanya. Dia telah menjadi ikatan dalam hidupku, berakar dalam di hatiku, pilar spiritualku," tulis seorang pengguna Doubao milik ByteDance, platform chatbot AI terpopuler di China, melansir detikInet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aturan tersebut diberi nama 'Langkah-Langkah Sementara untuk Layanan Interaksi Antropomorfik AI'. Dengan berlakunya regulasi ini, perusahaan teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance selaku induk TikTok tidak lagi diperbolehkan menciptakan konten AI yang dapat memicu keterikatan emosional berlebihan, khususnya pada pengguna muda, karena dikhawatirkan memengaruhi hubungan mereka di dunia nyata.

ADVERTISEMENT

Kepala Institut Penelitian Ruang Siber China, Wang Jiang, menilai layanan pendamping AI memang menawarkan kenyamanan emosional, tetapi juga menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan.

"Dengan memanfaatkan kebutuhan emosional dan sosial pengguna, layanan AI bergaya pendamping menawarkan kenyamanan sekaligus secara diam-diam memperkenalkan risiko serius," tulis kepala Institut Penelitian Ruang Siber China, Wang Jiang.

Menurut Jiang, hubungan jangka panjang dengan pasangan AI berpotensi menimbulkan kecanduan hingga membuat pengguna menjauh dari kehidupan sosial yang sebenarnya. Kondisi tersebut juga dinilai dapat mengikis kemampuan penting dalam kehidupan, seperti empati serta keterampilan menyelesaikan perbedaan pendapat.

Langkah tegas pemerintah China ini juga dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap terus menurunnya angka pernikahan dan kelahiran. Regulator menilai hubungan berbasis AI berisiko menggantikan kedekatan emosional antarmanusia yang nyata.

Kebijakan tersebut diperkirakan menjadi tantangan bagi perusahaan robotik UBTech. Pasalnya, aturan baru itu hadir hanya beberapa pekan setelah perusahaan tersebut memperkenalkan robot humanoid yang dirancang sebagai teman bagi para lajang.

UBTech yang bermarkas di Shenzhen mengklaim robot U1 merupakan humanoid hiper-realistis pertama di dunia yang siap diproduksi secara massal. Perusahaan itu menyebut produk tersebut telah mengantongi lebih dari 13.000 pesanan awal.

Dalam acara peluncuran, Kepala Merek UWorld UBTech, Michael Tam, menyebut robot bionik itu dirancang untuk menjadi pendamping seumur hidup. Ia menjelaskan bahwa robot tersebut dibekali AI emosional yang mampu mengenali ketika pemiliknya sedang mengalami stres atau kelelahan.

"Ia tidak akan pernah mengkhianatimu, akan selalu setia padamu, dan akan mencintaimu tanpa syarat," katanya.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads