Warga Hindu Gelar Doa di Lokasi Tapir Disembelih Warga Mesuji

Regional

Warga Hindu Gelar Doa di Lokasi Tapir Disembelih Warga Mesuji

Tommy Saputra - detikSumut
Kamis, 09 Jul 2026 10:01 WIB
Sejumlah umat Hindu Bali di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, menggelar doa bersama di lokasi penyembelihan tapir
Sejumlah umat Hindu Bali di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, menggelar doa bersama di lokasi penyembelihan tapir (Foto: Dok. Istimewa)
Mesuji -

Sejumlah umat Hindu Bali di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, menggelar doa bersama di lokasi penyembelihan seekor tapir yang sebelumnya menjadi perhatian publik. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk penyesalan sekaligus permohonan maaf atas kematian satwa yang berstatus dilindungi itu.

Doa bersama tersebut terekam dalam video berdurasi 3 menit 11 detik yang diunggah melalui akun Facebook Made Kastiawan pada Selasa (7/7/2026). Dalam video itu, Made bersama puluhan warga terlihat memanjatkan doa di lokasi penyembelihan tapir yang masih dipasangi garis polisi.

Made menjelaskan bahwa doa bersama digelar sebagai bentuk permohonan maaf kepada Tuhan atas tindakan penyembelihan tapir yang dilakukan oleh sejumlah warga beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami memohon maaf kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan saudara-saudara kami sehingga mengakibatkan berkurangnya hewan langka tapir ini," kata Made, dikutip dari unggahannya, Rabu (8/7/2026) melansir detikSumbagsel.

Ia menuturkan, kegiatan tersebut juga bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi. Menurutnya, masyarakat diharapkan tidak lagi melakukan perburuan ataupun pembunuhan terhadap satwa yang telah mendapat perlindungan berdasarkan undang-undang.

ADVERTISEMENT

"Kami ingin masyarakat lebih memahami bagaimana memperlakukan hewan langka yang dilindungi. Jangan sampai ada lagi perbuatan yang membuat populasinya berkurang dan berujung pada ancaman pidana," ujarnya.

Made mengaku merasa prihatin sekaligus malu atas peristiwa tersebut. Meski pelaku merupakan bagian dari masyarakat setempat, ia menegaskan tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.

"Kami malu, tentunya kami malu. Tetapi bagaimanapun dia tetap saudara kami. Namun perbuatan itu tidak bisa dibenarkan," ucapnya.

Ia berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian satwa liar. Menurut Made, keberadaan satwa-satwa liar saat ini semakin terancam akibat menyusutnya habitat dan sumber makanan yang dipicu oleh kerusakan lingkungan serta alih fungsi kawasan hutan.

"Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Mungkin ini menjadi pesan bagi kita semua agar lebih memperhatikan satwa-satwa langka yang semakin kehilangan tempat hidup dan sumber makanannya," tuturnya.

Sebelumnya, kasus penyembelihan tapir di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, menyita perhatian masyarakat luas. Kepolisian telah menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka dalam perkara tersebut.

Berdasarkan hasil penyelidikan, sebagian daging tapir diketahui sempat dibagikan kepada warga dan dimasak sebelum kasus itu terungkap. Saat ini, para tersangka telah menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads