Cerita Bahlil Tidur Sampai Ngigo BBM

Cerita Bahlil Tidur Sampai Ngigo BBM

Tim detikFinance - detikSumut
Jumat, 26 Jun 2026 15:01 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia meresmikan program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jumat (19/6/2026) petang.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng)
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan tingginya beban pemerintah dalam mengelola pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Ia bahkan sampai bekelakar tidur sampai mengigau tentang BBM serta bekerja terus walau akhir pekan.

Bahlil menjelaskan Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG. Dari total kebutuhan nasional sekitar 8,5 juta ton per tahun, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,8-1,9 juta ton. Dengan demikian, sekitar 75-80% kebutuhan LPG masih harus dipenuhi dari luar negeri.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin berat ketika harga minyak dunia meningkat akibat situasi geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan itu turut mendorong naiknya acuan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu harganya ICP US$ 70 waktu itu Saudi Aramco 500 sampai 600, itu kita punya devisa keluar per tahun Rp 120 triliun. Sekarang ICP-nya seperti ini, bayangan saya devisa kita keluar untuk mengurus LPG tidak kurang dari Rp 140-150 triliun, dan total pembelanjaan kita BBM per tahun kurang lebih sekitar 28 sampai US$ 30 miliar," kata Bahlil dalam acara CNBC Energy Forum 2026, Jakarta Pusat, dilansir detikFinance, Kamis (25/6/2026).

Bahlil menilai besarnya impor BBM dan LPG turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dampaknya, anggaran subsidi energi yang semula diperkirakan sekitar Rp 80-87 triliun kini membengkak sehingga pemerintah harus menambah alokasi dana.

ADVERTISEMENT

Kondisi ini membuat pemerintah terus bekerja mencari jalan keluar agar masyarakat tidak makin terbebani. Bahlil lalu menyinggung anggapan pihak lain yang menilai pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tenang-tenang saja terhadap masalah ini. Padahal menurutnya pemerintah bekerja keras.

"Orang bilang kita ini pemerintah tenang. Negara lain, harga minyak naik, susah. Ada uang, belum tentu ada barang. Apalagi tidak ada uang, tidak ada barang, mati kita. Mati. Saya katakan untuk teman-teman mungkin rakyat kita kita kasih tenang," jelas Bahlil.

Bahlil mengatakan para anggota kabinet Presiden Prabowo Subianto tetap bekerja pada akhir pekan demi memastikan pasokan energi tetap aman. Ia mengaku persoalan BBM bahkan terbawa hingga ke alam bawah sadarnya.

"Tapi kami anggota kabinet di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo itu hari Sabtu Minggu nggak ada hari libur. Nanya terus barang ini, apalagi menyangkut BBM. Kadang-kadang kita tidur pun ngigo BBM, BBM, BBM. Ngigo Pak," tutur Bahlil.

Dalam kesempatan itu, Bahlil juga berkelakar bahwa dirinya sempat menjaga jarak dengan sang istri karena terlalu sering memikirkan persoalan BBM.

"Bulan puasa pisah kamar saya sama istri. 'Kau jangan dekat-dekat saya dulu.' Saya bilang, 'Pusing saya ngigo BBM'. Kan celaka nanti kan? Bahaya Pak. Jadi, biarlah sakitnya itu kami di anggota kabinet. Rakyat itu biar tidak boleh terlalu sakit tentang ketersediaan gitu," cerita Bahlil.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads