Saham SpaceX Anjlok, Elon Musk Kehilangan Status Triliuner

Saham SpaceX Anjlok, Elon Musk Kehilangan Status Triliuner

Tim detikInet - detikSumut
Rabu, 24 Jun 2026 23:58 WIB
Elon Musk receives the key to the White House from U.S. President Donald Trump during a press conference in the Oval Office at the White House, in Washington, D.C., U.S., May 30, 2025. REUTERS/Nathan Howard
Foto: Elon Musk. (REUTERS/Nathan Howard)
Jakarta -

Elon Musk harus kehilangan status manusia pertama dengan kekayaan lebih dari USD 1 triliun. Hal itu terjadi akibat anjloknya harga saham SpaceX.

Dilansir detikInet, berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, kini kekayaan Musk berada di kisaran USD 957 miliar atau sekitar Rp 15.600 triliun (kurs Rp 16.300 per dolar AS). Penurunan ini terjadi setelah saham SpaceX tertekan dalam aksi jual besar-besaran yang melanda saham teknologi global.

Pada awal bulan ini, Musk sempat mencatatkan sejarah sebagai triliuner pertama di dunia. Hal tersebut terjadi sesaat setelah IPO SpaceX sukses besar dan membuat valuasi perusahaan melampaui USD 2 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala itu, saham SpaceX ramai dibeli oleh investor ritel. Harga saham perusahaan roket itu pun melesat tajam dalam beberapa hari pertama perdagangan,

Para pembeli optimis terhadap berbagai proyek futuristis perusahaan, mulai dari pusat data di luar angkasa hingga ambisi mengirim manusia ke Mars yang ditawarkan SpaceX.

ADVERTISEMENT

Kini euforia tersebut mulai mereda. Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), saham SpaceX ditutup di level sekitar USD 156 atau turun lebih dari 30% dibandingkan puncak intraday USD 225 yang tercapai pada 16 Juni lalu.

Meski demikian, harga tersebut masih sedikit lebih tinggi dibandingkan harga debut IPO di level USD 150 per saham.

Penurunan saham SpaceX terjadi di tengah koreksi yang melanda sektor teknologi. Kekhawatiran terhadap potensi gelembung (bubble) industri AI serta prospek kenaikan suku bunga membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi.

Sejumlah analis juga mulai mempertanyakan valuasi fantastis SpaceX yang dianggap terlalu tinggi dibandingkan kondisi fundamental perusahaan saat ini. Sorotan semakin besar setelah dokumen IPO mengungkapkan bahwa SpaceX membukukan kerugian sebesar USD 4,9 miliar sepanjang 2025.

Tak hanya itu, divisi kecerdasan buatan (AI) milik SpaceX disebut menghabiskan belanja modal hingga USD 12,7 miliar, sehingga memicu kekhawatiran soal kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek.

Tantangan berikutnya datang dari berakhirnya periode lockup IPO dalam beberapa bulan mendatang. Momen tersebut akan memungkinkan investor awal dan karyawan menjual saham mereka ke pasar, yang berpotensi menambah tekanan terhadap harga saham.

Meski demikian, SpaceX masih menjadi aset terbesar Musk. Kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut diperkirakan bernilai sekitar USD 744 miliar atau hampir 80% dari total kekayaannya. Sementara kepemilikannya di Tesla juga ikut tergerus koreksi pasar dan kini bernilai sekitar USD 158 miliar.

Walau kehilangan status triliuner, posisi Musk sebagai orang terkaya di dunia masih sangat aman. Jarak kekayaannya dengan pesaing terdekat, Larry Page, masih mencapai sekitar US$ 660 miliar.

Sebagai gambaran, selisih tersebut bahkan lebih besar dari dua kali total kekayaan Jeff Bezos. Dengan kata lain, meski turun dari level triliuner, Musk masih berada jauh di depan para miliarder lainnya dalam daftar orang terkaya dunia.

Artikel ini telah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini



(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads