Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap dianggap sepele karena sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak penderita merasa tetap sehat sehingga tidak segera menjalani pengobatan atau pengawasan medis secara rutin.
Kondisi inilah yang dialami Deborah, seorang wanita berusia 69 tahun asal Georgia, Amerika Serikat. Selama ini ia mengabaikan hipertensi yang dialaminya bertahun-tahun.
Deborah mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali didiagnosis mengalami hipertensi saat berusia sekitar 30 tahun. Namun, karena tidak merasakan keluhan berarti, ia tidak menganggap serius peringatan yang diberikan dokter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya sebenarnya tidak memiliki gejala atau kekhawatiran apa pun. Saat saya mengunjungi dokter untuk hal lain, dokter saya menunjukkan bahwa tekanan darah saya tinggi," ungkap Deborah, dikutip detikHealth dari People.
Selama bertahun-tahun, Deborah lebih fokus mengurus keluarga dan membangun karier dibanding memperhatikan kesehatannya. Selain itu, ia tumbuh dengan anggapan bahwa hipertensi merupakan kondisi yang umum terjadi pada orang lanjut usia dan tidak selalu menimbulkan dampak serius.
"Saya tidak punya waktu untuk 'sakit,' dan saya tidak merasa sakit. Saya pikir saya adalah 'superwoman'," kenangnya.
Sikap tersebut membuatnya mengabaikan pengobatan serta pemeriksaan rutin. Padahal, sejumlah gejala ringan seperti pusing dan sesak napas mulai muncul. Deborah tetap mengesampingkan tanda-tanda itu hingga akhirnya putrinya mendesaknya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.
Ketika tiba di ruang triase, petugas medis bahkan mengalami kesulitan mengukur tekanan darahnya. Setelah berhasil diperiksa, hasilnya menunjukkan angka yang sangat tinggi.
"Ketika mereka berhasil, tekanan darah saya lebih dari 200 mmHg," tutur Deborah.
Meski sempat mengalami kondisi darurat tersebut, Deborah masih belum sepenuhnya menyadari bahaya hipertensi. Setahun kemudian, ia kembali merasakan sesak napas dan ketidaknyamanan di area dada. Awalnya ia mengira keluhan tersebut hanya disebabkan oleh kawat bra yang dikenakannya.
Namun setelah menjalani pemeriksaan rekam jantung (EKG), dokter menemukan bahwa kondisinya sudah mendekati serangan jantung.
"Itulah bagian yang benar-benar menakutkan dari hipertensi, tidak ada tanda-tanda yang benar-benar mencolok. Dan, gejalanya bisa sangat samar, sampai akhirnya tidak lagi (samar)," bebernya.
Hipertensi Menyebabkan Kerusakan Ginjal
Walaupun akhirnya rutin mengonsumsi obat-obatan, tekanan darah Deborah terlanjur sulit dikendalikan akibat keterlambatan penanganan. Dampak hipertensi yang berlangsung selama bertahun-tahun pun mulai memengaruhi organ-organ penting dalam tubuhnya.
Dokter kemudian mendiagnosis Deborah mengalami penyakit ginjal kronis akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam waktu lama.
"Akibat hipertensi yang tidak terkontrol, saya mengalami penyakit ginjal kronis yang juga harus saya kelola. Bahkan tanpa gejala yang besar, tekanan darah tinggi memengaruhi ginjal saya," akunya penuh penyesalan.
Kini, Deborah aktif mengedukasi masyarakat mengenai bahaya hipertensi yang sering dijuluki sebagai silent killer. Ia mengingatkan pentingnya memantau tekanan darah secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi.
