Beberapa waktu lalu publik dihebohkan dengan kasus dugaan child grooming yang dilakukan salah satu kepala sekolah berinisial AMA terhadap salah satu siswi SMK Swasta di Pamulang, Tangerang Selatan. Benarkah kondisi fatherless menyebabkan anak rentan menjadi korban child grooming, begini penjelasan psikolog.
Psikologi Klinis, Sairah menjelaskan bahwa child grooming merupakan orang dewasa mencoba membangun hubungan emosional dengan anak di bawah umur dengan tujuan mengeksploitasi dan memanipulasi.
"Child grooming ini adalah ketika orang dewasa membangun sebuah kedekatan, membangun sebuah kepercayaan, atau hubungan yang ketergantungan ya, secara emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan untuk mengeksploitasi, memanipulasi atau bahkan pelecehan," ujarnya saat diwawancarai detikSumut, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan, Sairah menjelaskan fatherless merupakan kondisi ketika anak kehilangan figur seorang ayah, baik secara fisik maupun emosional. Meskipun memiliki ayah, anak bisa mengalaminya fatherless apabila seorang ayah tidak berperan.
"Fatherless ini biasanya memang menggambarkan kondisi ketika anak kehilangan figur ayah secara fisik maupun emosional. Ingat fatherless ini bukan hanya terjadi pada anak-anak yatim ya, yang tidak punya bapak, yang bapaknya sudah meninggal. Tetapi kehadirannya atau figur ayahnya secara fisik dan emosional itu hilang, tidak ada, tidak berperan," jelasnya.
Sairah menyebut anak dengan kondisi fatherless biasanya memiliki kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Kondisi inilah yang menyebabkan anak akan mencoba mencari figur tersebut di orang lain.
"Nah, tapi sebagian besar memang anak-anak dengan fatherless itu kan kebutuhan emosionalnya dia tidak terpenuhi, sehingga membuat pelaku lebih mudah masuk menjadi 'figur penggantinya'," lanjutnya.
Sairah menjalankan bahwa kondisi fatherless akan membuat perhatian yang diberikan pelaku child grooming akan sangat berarti bagi korban. Apalagi jika pelaku merupakan orang dewasa yang dianggap dapat dipercaya dan memberikan rasa aman.
"Ketika kebutuhan afeksi, kebutuhan emosional itu atau kebutuhan penghargaan itu tidak terpenuhi, maka perhatian kecil dari pelaku itu menjadi sangat-sangat berarti bagi korban. Hanya diberikan hadiah, hanya cuman dikasih, permen, itu aja sudah bisa menarik hati para anak-anak. Kemudian anak mungkin lebih mudah mempercayai kepada sosok yang dewasa yang dianggap memberi pengayoman, perlindungan, mendapatkan rasa aman. Sehingga haus rasa kasih sayang itu tadi, kemudian rasa takut kehilangan perhatian tersebut, sehingga mengikuti apa saja kemauan dari pelaku," ujarnya.
Untuk itu, Sairah menyebut orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak tidak rentan menjadi korban child grooming. Hal ini agar jika ada kejanggalan yang dirasakan, anak akan lebih mudah bercerita dan melaporkan kejadian tersebut.
"Yang pertama, tentu bangun komunikasi yang terbuka. Anak perlu mendapatkan rasa aman ya untuk bisa dia bercerita, tidak dihakimi atau dimarahi. Nah, terbiasa didengar anak-anak ini, maka dia akan lebih mudah melaporkan situasi-situasi yang membuatnya tidak nyaman. Jadi berani untuk speak up akhirnya ketika ada kejanggalan-kejanggalan yang didapatkan misalnya dari sekolah," jelasnya.
Apa yang harus dilakukan orang tua?
Sairah menjelaskan penting bagi orang tua untuk mengajarkan batasan tubuh yang seharusnya pada anak. Selain itu penting juga mengajarkan batasan relasi, meskipun untuk orang sekitar seperti guru di sekolah.
"Tentunya diajarkan batasan-batasan secara norma, batasan tubuh mana yang boleh dipegang, mana yang enggak boleh. Batasan relasi, misalnya walaupun itu dengan gurunya, walaupun dengan kepala sekolahnya, itu ada hal-hal yang enggak boleh dilakukan," lanjutnya.
Sairah menjelaskan bahwa anak harus diajarkan bahwa ancaman itu merupakan hal yang tidak wajar. Selain itu penting untuk meningkatkan kepercayaan diri anak, agar anak merasa lebih dicintai dan tidak mudah mencari figur pengganti.
"Nah, kemudian ada hubungan-hubungan yang rahasia atau ancaman-ancaman itu sebuah hal yang tidak normal. Kemudian yang terakhir, tentu perlu sekali memperkuat self-esteem anak sehingga anak itu mempunyai harga diri, dicintai oleh keluarga, tidak mudah dimanipulasi atau diiming-imingi perhatian atau validasi dari luar. Ketika itu didapat dari rumah, sudah mencukupi atau terpenuhi, maka insyaallah bisa terhindar dari perilaku child grooming ini," ujarnya.
Orang tua, menurut Sairah harus lebih memperhatikan perubahan perilaku pada anak. Anak yang terlihat sering murung juga harus dicari tahu sebabnya demi menghindari terjadinya hal-hal yang tidak seharusnya.
"Kemudian harus juga memperhatikan adanya perubahan-perubahan perilaku pada anak. Anak udah nampak murung, terus mulai tidak tertarik di sekolah, tidak bersemangat. Nah, itu itu harus langsung peka nih untuk menggali apa yang terjadi," lanjutnya.
Terakhir, Sairah juga menyebut bahwa penting untuk membangun lingkungan yang aman untuk anak. Lingkungan yang aman ini merupakan tanggung jawab bagi semua, tidak hanya orang tua melainkan pihak sekolah, hingga masyarakat sekitar.
"Kemudian yang paling penting, bangun lingkungan yang aman untuk anak-anak. Sehingga dia bisa apa namanya tadi, speak up, tentunya diedukasi terkait perlindungan anak, ada pengawasan, dan itu keterlibatan itu dari semua stakeholder sih. Tidak hanya orang tua, pihak sekolah, tetapi masyarakat juga perlu terlibat dalam hal ini," tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)
