Ritual Nandong di Semeulue Aceh, Tradisi Bernyanyi Semalaman

Ritual Nandong di Semeulue Aceh, Tradisi Bernyanyi Semalaman

A.Fahri - detikSumut
Selasa, 05 Mei 2026 23:58 WIB
Ritual Nandong di Simeulue, Aceh (Foto: YouTube amondaya alfanmono)
Foto: Ritual Nandong di Simeulue, Aceh (Foto: YouTube amondaya alfanmono)
Medan -

Di tengah kehidupan masyarakat Pulau Simeulue, Aceh, terdapat sebuah tradisi bernama Nandong. Tradisi ini dikenal unik karena berlangsung semalaman, menghadirkan perpaduan antara musik, pantun, dan nasihat kehidupan.

Nandong biasanya dipentaskan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan dan khitanan. Dalam konteks formal, pertunjukan ini dimulai pada malam hari dan dapat berlangsung hingga menjelang subuh, menciptakan suasana sakral sekaligus reflektif bagi para pendengarnya.

Berdasarkan kajian dalam jurnal The Performance of Nandong in Simeulue Island, pertunjukan nandong memiliki struktur yang khas, dimulai dari pembukaan (seuramo), bagian inti, hingga penutup yang ditandai kembali dengan tabuhan alat musik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya soal durasi, kekuatan nandong juga terletak pada cara penyampaiannya. Syair-syair yang dibawakan dalam nada tinggi mengandung cerita dan nasihat hidup yang menyentuh emosi. Bahkan, dalam beberapa pertunjukan, penonton dapat terbawa suasana hingga meneteskan air mata.

ADVERTISEMENT

"Nandong memiliki fungsi sebagai 'alarm' bagi masyarakat Simeulue dalam menghadapi berbagai persoalan hidup," demikian disebutkan dalam penelitian tersebut.

Tradisi ini juga tidak terbatas pada acara formal. Dalam kehidupan sehari-hari, nandong kerap dilantunkan oleh masyarakat saat bekerja, seperti saat melaut atau berkebun. Hal ini menunjukkan bahwa nandong bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Namun, di balik keunikannya, nandong kini menghadapi tantangan besar. Modernisasi dan masuknya hiburan populer membuat tradisi ini semakin jarang dipertunjukkan, terutama di kalangan generasi muda.

"Tradisi ini kini semakin jarang ditemukan karena mulai tergantikan oleh musik modern seperti keyboard dan dangdut," tulis penelitian tersebut.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan hilangnya salah satu warisan budaya yang sarat nilai. Nandong tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga mengajarkan norma, etika, dan cara pandang hidup masyarakat Simeulue.

Dengan durasi panjang dan penyampaian yang penuh makna, nandong menjadi lebih dari sekadar seni pertunjukan. Ia adalah ruang kolektif di mana masyarakat berkumpul, mendengar, dan merenungkan kehidupan sebuah tradisi yang bernyanyi semalaman, namun menyisakan makna yang jauh lebih lama.





(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads