Sumatera Utara bukan hanya dipenuhi dengan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki warisan budaya yang sangat istimewa. Salah satu tradisi yang sangat menyentuh adalah Mengari-ngari Tendi, yang merupakan ritual suci dari Suku Pakpak.
Suku Pakpak adalah kelompok etnis besar yang tinggal di daerah lintas provinsi, termasuk Kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah (Barus), hingga mencapai Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.
Walaupun sejarah sering mengkategorikan mereka sebagai bagian dari sub-etnis Batak, masyarakat Pakpak tetap berpegang pada identitas khas mereka yang membedakan. Keberagaman identitas ini terlihat dalam lima suak atau daerah adat besar, yaitu Simsim, Keppas, Pegagan, Klasen, dan Boang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara berbagai ritual tradisional yang ada, Mengari-ngari Tendi menjadi simbol emosional yang menunjukkan betapa pentingnya solidaritas dalam menghadapi kesedihan.
Kemudian, bagaimana prosesi yang diyakini dapat menghidupkan kembali semangat jiwa yang lema ini? Mari kita dalami makna dan filosofi di balik tradisi "penghibur jiwa" yang menjadi kebanggaan warga Pakpak ini.
Apa Itu Mengari-ngari Tendi?
Dilansir dari jurnal Mengari-Ngari Tendi Dalam Suku Pak-Pak Untuk Menghibur Orang Yang Sedang Berdukaa oleh Alma Sari Solin, Delima Manik, Sofia Sri Soradinah Wau, Jeri Hesekiel Lumbantobing, tradisi ini secara harfiah merupakan upacara adat yang dilakukan untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang tengah menghadapi kehilangan akibat kematian.
Dalam pandangan masyarakat Pakpak, kematian tidak semata-mata menjadi urusan individu atau keluarga terdekat, tetapi menjadi tanggung jawab bersama semua anggota komunitas.
Keluarga Kula-kula, yang merujuk kepada saudara laki-laki dari pihak ibu atau sering disebut Tulang, memainkan peran sentral dalam tradisi ini. Kehadiran mereka lebih dari sekadar pelayat; mereka datang sebagai penyemangat serta sumber kekuatan spiritual, dengan tujuan agar anggota keluarga yang ditinggal tetap dapat menghadapi kesedihan tanpa tenggelam dalam duka mendalam.
Serangkaian Prosesi Adat Mengari-ngari Tendi
Tradisi ini tidak dilaksanakan secara semena-mena. Prosesnya dilalui melalui serangkaian tahap yang memiliki makna mendalam baik secara sosial maupun spiritual:
1. Merpulung (Musyawarah Adat)
Sebelum upacara dimulai, sebuah pertemuan yang dinamakan Merpulung dilaksanakan. Pertemuan ini melibatkan tiga elemen pokok dari kekerabatan, yaitu Kula-kula (saudara laki-laki ibu), Mersebeltek (saudara se-marga), dan Boru (keluarga pihak penerima istri). Mereka berkumpul untuk merumuskan tata cara penghiburan agar upacara berlangsung dengan penuh rasa hormat.
2. Makan Bersama (Nasi Pahit)
Menariknya, pada proses ini terdapat istilah makan bersama yang dikenal sebagai nasi pahit. Istilah ini tidak merujuk pada rasa makanan itu sendiri, tetapi melambangkan bahwa kerabat juga merasakan pahitnya kesedihan yang dialami oleh keluarga. Dengan melaksanakan makan bersama, beban kesedihan dianggap akan terbagi dan terasa lebih ringan.
3. Pemberian Sarung (Mengolesi)
Biasanya, pihak paman atau kerabat dekat akan menghadiahkan sarung atau kain panjang kepada keluarga yang tengah berduka. Proses ini dikenal sebagai Mengolesi, yang menggambarkan kehangatan, perlindungan, serta harapan agar keluarga yang ditinggalkan memperoleh kekuatan dan berkat dari Yang Maha Kuasa.
4. Kata-Kata Penghiburan (Memere Pedah)
Puncak kegiatan ini adalah penyampaian nasihat (Pedah) dan penghiburan. Pada momen tersebut, keluarga akan disediakan air untuk membersihkan wajah sebagai simbol kebangkitan jiwa, serta nasi kental yang melambangkan persatuan keluarga. Harapannya, mereka dapat menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam melewati masa depan dan membesarkan anak-anak mereka.
Tujuan dan Makna Spiritual
Tradisi Mengari-ngari Tendi terus berlanjut sampai sekarang karena memiliki lima tujuan utama bagi masyarakat Pakpak:
- Penghormatan Terakhir: Sebagai ungkapan penghargaan tertinggi terhadap jasa dan kontribusi almarhum semasa hidup.
- Dukungan Moral: Menguatkan kondisi mental keluarga agar tidak merasa terasing dalam kesedihan.
- Pemulihan Jiwa: Membantu proses penyembuhan emosi melalui nasihat-nasihat spiritual.
- Solidaritas Sosial: Menguatkan hubungan antar tetangga dan kerabat.
- Pelestarian Budaya: Mengingatkan generasi muda tentang nilai-nilai mulia dari nenek moyang yang menekankan kasih sayang.
Melalui penggunaan Umpasa (pantun berkat) dan Umpama (puisi nasihat), tradisi ini menunjukkan betapa tinggi peradaban Suku Pakpak dalam menjunjung kemanusiaan, terutama di saat masa-masa sulit dalam hidup.
Mengari-ngari Tendi bukan sekadar rangkaian upacara formal dalam Suku Pakpak. Tradisi ini adalah pengingat bahwa di balik kesedihan yang paling dalam, selalu ada tangan keluarga dan komunitas yang siap menopang. Lewat kehadiran Kula-kula dan hangatnya suapan nasi pahit, masyarakat Pakpak mengajarkan kita bahwa duka tidak seharusnya dipikul sendirian.
Artikel ditulis Dwi Puspa Handayani Berutu peserta magang Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Momen Nelayan Prigi Trenggalek Gelar Labuh Larung Sembonyo"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































