Bendungan Krueng Pase Selesai Diperbaiki, Air Kembali Aliri 9 Ribu Hektare Sawah

Karya Merah Putih

Bendungan Krueng Pase Selesai Diperbaiki, Air Kembali Aliri 9 Ribu Hektare Sawah

Agus Setyadi - detikSumut
Selasa, 05 Mei 2026 15:19 WIB
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau Bendungan Krueng Pase di Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara
Foto: Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau Bendungan Krueng Pase di Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara (Dok. Agus Setyadi/detikSumut)
Aceh Utara -

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau Bendungan Krueng Pase di Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara yang telah selesai dibangun kembali pasca hancur akibat banjir 2020 silam. Bendungan itu akan mengairi lahan persawahan seluas 8.922 hektare di sembilan kecamatan.

Pantauan detikSumut, Menteri Dody sempat menekan tombol di salah satu tempat pengatur air yang ada di bendungan, Selasa (5/5/2026). Bendungan yang direhabilitasi Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I itu mengaliri dua daerah irigasi utama yakni DI Pase Kiri dan DI Pase Kanan.

"Bendung Krueng Pase ini sudah selesai diperbaiki dan airnya sudah mengairi sawah hampir 9 ribu hektare," kata Dody kepada wartawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sawah yang mengandalkan air di sungai itu terletak delapan Kecamatan di Aceh Utara yaitu di Kecamatan Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Matang Kuli, Syamtalira Aron, Tanah Luas, Nibong, Tanah Pasir. Sementara satu kecamatan lainnya adalah Blang Mangat di Kota Lhokseumawe.

ADVERTISEMENT

Dody berharap setelah bendung itu berfungsi kembali, para petani di daerah tersebut dapat panen padi minimal dua kali setahun. Dia mengaku akan berkoordinasi dengan Menteri Pertanian untuk masalah lainnya seperti bibit dan pupuk.

"Tadi ada harapan-harapan dari petani sudah saya sampaikan ke Menteri Pertanian," jelas Dody.

Bendungan Krueng Pase yang merupakan peninggalan Belanda mengalami rusak parah pada 2020 lalu akibat banjir dan tingginya debit air. Proses rehabilitasi dilakukan sejak 2021 namun kondisinya diperparah akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025 lalu.

Akibatnya aliran air ke areal persawahan terhenti total saat itu. Petani harus mengandalkan curah hujan untuk menanam padi.




(agse/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads