Kisah Parpandanan Na Bolag dan Runtuhnya Kerajaan Nagur di Simalungun

Kisah Parpandanan Na Bolag dan Runtuhnya Kerajaan Nagur di Simalungun

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Sabtu, 11 Apr 2026 01:02 WIB
Perkampungan Simalungun tempo dulu (Foto:www.kitlv.nl)
Foto: Perkampungan Simalungun tempo dulu (Foto:www.kitlv.nl)
Simalungun -

Di balik kejayaan kerajaan-kerajaan kuno di Sumatera Utara, tersimpan kisah getir tentang kekuasaan, dendam, dan kehancuran dari dalam. Salah satunya terekam dalam buku Analisis Teks Cerita Sejarah yakni Parpandanan Na Bolag - Awal Mula Kerajaan Nagur di Simalungun yang disunting oleh Erond L. Damanik.

Jejak Kerajaan Tertua di Simalungun

Kerajaan Nagur diyakini sebagai salah satu kerajaan tertua di wilayah Simalungun. Dalam kajian tersebut disebutkan, kerajaan ini telah berdiri sejak sekitar abad ke-10 Masehi dan mencapai masa kejayaannya sebelum akhirnya runtuh pada awal abad ke-13 .

Namun berbeda dari banyak kisah kerajaan lain yang runtuh akibat serangan musuh, Nagur justru menghadapi kehancurannya dari dalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Erond L. Damanik, naskah Parpandanan Na Bolag bukan sekadar legenda biasa.
"Naskah PNB ini dianggap benar-benar terjadi yang diangkat dari kisah sebenarnya dengan setting Kerajaan Nagur di Simalungun," tulisnya.

ADVERTISEMENT

Dari Tradisi Lisan ke Bukti Peradaban

Awalnya, kisah Parpandanan Na Bolag hidup sebagai tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita tersebut kemudian dituliskan dalam pustaha laklak-media kulit kayu yang digunakan masyarakat Simalungun untuk merekam pengetahuan.

Peralihan ini bukan sekadar perubahan media, tetapi juga penanda penting dalam sejarah peradaban.

"Pengalihan sastra lisan ke tulisan menandai periode berakhirnya prasejarah ke era sejarah yang ditandai dengan dikenalnya tulisan," jelas Erond L. Damanik .

Dengan demikian, naskah ini tidak hanya menyimpan cerita, tetapi juga menjadi bukti berkembangnya budaya literasi di masyarakat Simalungun.

Intrik Istana dan Dendam Saudara

Sebagai teks cerita sejarah, Parpandanan Na Bolag berfokus pada kehidupan istana. Di balik kemegahan kerajaan, tersimpan konflik yang perlahan menggerogoti kekuasaan.

Kisah ini menggambarkan pertikaian antar anggota keluarga kerajaan, khususnya antara dua bersaudara yang terjebak dalam dendam berkepanjangan. Konflik tersebut berkembang menjadi ambisi saling membunuh, bahkan melibatkan keturunan mereka.

"Dua bersaudara melahirkan keinginan saling bunuh untuk melepaskan dendam pribadinya... hingga menjadi akhir kejayaan kerajaan," tulis Erond L. Damanik.

Intrik kekuasaan, perebutan pengaruh, hingga balas dendam menjadi rangkaian peristiwa yang pada akhirnya meruntuhkan fondasi Kerajaan Nagur. Perang saudara yang terjadi menunjukkan bahwa kekuatan besar sekalipun dapat runtuh ketika persatuan di dalamnya hilang.

Simbol Solidaritas dan Pesan Moral

Lebih dari sekadar kisah masa lalu, Parpandanan Na Bolag mengandung nilai dan pesan moral yang kuat. Naskah ini menjadi refleksi penting tentang arti persatuan dalam kehidupan sosial.

"Teks sastra sejarah ini menjadi simbol adanya persatuan (solidaritas) Simalungun di masa lalu," ungkap Erond L. Damanik.

Konflik internal yang dipicu oleh dendam pribadi menjadi pelajaran bahwa kehancuran sering kali datang bukan dari luar, melainkan dari dalam.

Warisan Folklor yang Tetap Relevan

Sebagai bagian dari folklor Simalungun, kisah ini memiliki berbagai fungsi sosial. Selain sebagai hiburan, ia juga berperan sebagai alat pendidikan, penguat nilai-nilai budaya, serta pengingat akan norma-norma kehidupan.

"Folklor berfungsi sebagai alat pendidikan, pengawas norma, dan mempertebal solidaritas kolektif masyarakat," tulis Erond L. Damanik dalam kajiannya .

Hingga kini, nilai-nilai tersebut tetap relevan. Di tengah perubahan zaman, pesan tentang pentingnya persatuan, kejujuran, dan pengendalian konflik masih menjadi dasar dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.

Kisah Parpandanan Na Bolag pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah cermin yang menunjukkan bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan kerap bermula dari retaknya persaudaraan di dalamnya.

Di tengah dunia yang terus berubah, pesan itu tetap sama: sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh kekuatan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga persatuan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Mencoba Adrenalin Naik Sepeda Gantung di Ketinggian Simalungun"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads