Teluk Belanga dalam Adat Melayu, Warna hingga Kancing Punya Makna

Teluk Belanga dalam Adat Melayu, Warna hingga Kancing Punya Makna

Siti Asyaroh - detikSumut
Selasa, 07 Apr 2026 17:59 WIB
Kesultanan Deli mengenakan pakaian adat Melayu, Teluk Belanga. (Siti Asyaroh/detikSumut)
Foto: Kesultanan Deli mengenakan pakaian adat Melayu, Teluk Belanga. (Siti Asyaroh/detikSumut)
Medan -

Pakaian adat Melayu untuk laki-laki, Teluk Belanga, bukan sekadar busana tradisional, tetapi juga sarat makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu.

Sosen Sastra Melayu Universitas Sumatera Utara (USU), Arie Azhari Nasution, menjelaskan bahwa Teluk Belanga merepresentasikan karakter masyarakat Melayu yang berlandaskan nilai-nilai Islami, seperti kerendahan hati, keterbukaan, serta sikap saling menghormati.

Kesederhanaan menjadi ciri utama dari Teluk Belanga. Desainnya yang polos tanpa banyak ornamen justru memiliki makna mendalam tentang cara pandang hidup masyarakat Melayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Teluk belanga yang biasanya dari kain yang polos (tidak banyak desain khusus) melambangkan kesederhanaan dan sikap orang Melayu yang selalu berlapang dada dan menerima kehadiran orang lain. Hal ini juga menjadikan masyarakat Melayu yang santun dan saling menghormati serta tidak membedakan status sosial," jelasnya, Selasa (7/4/2026).

Dalam praktiknya, Teluk Belanga masih digunakan hingga saat ini, terutama dalam berbagai acara penting. Pakaian ini kerap dikenakan dalam upacara adat seperti pernikahan, penobatan kerajaan, hingga acara keluarga Melayu. Selain itu, Teluk Belanga juga digunakan dalam kegiatan keagamaan, festival budaya, serta pertemuan formal sebagai bentuk pelestarian identitas budaya.

ADVERTISEMENT

Warna dalam Teluk Belanga menjadi unsur penting yang sarat simbol. Setiap warna memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan nilai dan peran sosial dalam masyarakat Melayu.

"Warna kuning zaman dulu hanya dipakai oleh raja atau keluarga raja, karena melambangkan kemuliaan, kedaulatan, dan otoritas. Sementara itu, warna putih digunakan oleh tokoh agama yang bermakna kesucian dan kebersihan hati, dan warna hijau identik dengan kemakmuran serta nilai-nilai Islam," lanjutnya.

Selain warna, kata Ari, jumlah kancing pada Teluk Belanga juga mengandung filosofi keagamaan. Satu kancing melambangkan keesaan Allah, sedangkan lima kancing mencerminkan rukun Islam atau kewajiban salat lima waktu.

Teluk Belanga biasanya dikenakan secara lengkap dengan kain samping, yaitu kain tenun yang dililitkan di pinggang. Cara pemakaiannya pun memiliki arti sosial yang jelas.

"Kalau kain samping dipakai sampai ujungnya di bawah lutut, artinya orang tersebut sudah menikah. Kalau dipakai di atas lutut berarti masih lajang, dan kalau dipakai pas selutut biasanya menunjukkan orang yang dituakan atau memiliki kebijaksanaan dalam masyarakat," tuturnya.

Selain kain samping, pelengkap lain seperti tanjak, tengkuluk, atau peci juga menjadi bagian penting dari Teluk Belanga. Penutup kepala ini melambangkan martabat dan kehormatan seorang laki-laki Melayu.

Dengan segala makna yang terkandung di dalamnya, Teluk Belanga tidak hanya menjadi pakaian adat, tetapi juga simbol nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads