Mengenal Sejarah dan Makna Filosofis Ketupat Opor Ayam saat Lebaran

Mengenal Sejarah dan Makna Filosofis Ketupat Opor Ayam saat Lebaran

Dwi Puspa Handayani Berutu - detikSumut
Sabtu, 28 Feb 2026 08:00 WIB
Tips opor ayam
Foto: Istimewa
Medan -

Lebaran rasanya kurang lengkap kalau tidak ada ketupat dan opor ayam. Menu wajib ini sudah menjadi bagian penting dari tradisi Hari Raya di Indonesia sejak ratusan tahun lalu.

Bukan hanya sekedar makanan kekinian, sejarah menunjukkan bahwa campuran hidangan ini digunakan oleh Wali Songo sebagai cara untuk menyampaikan ajaran Islam melalui simbol-simbol yang berkaitan dengan makanan.

Dilansir dari detikFood, mari kita bahas makna filosofis dari "Ngaku Lepat" dan "Ngapura" yang membuat hidangan ini terasa begitu sakral setiap tahunnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketupat

Ketupat tidak hanya makanan yang terbuat dari beras, tetapi juga merupakan bagian dari sejarah yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai alat untuk menyampaikan ajaran Islam di tanah Jawa.

Secara etimologi, kata "Ketupat" atau "Kupat" dalam filosofi Jawa mengacu pada akronim Ngaku Lepat, yang berarti mengakui kesalahan, serta Laku Papat yang melambangkan empat tindakan pokok dalam kehidupan manusia.

ADVERTISEMENT

Konsep Laku Papat ini mengajarkan pentingnya meningkatkan kualitas diri pada saat Lebaran, yaitu dengan menjaga ucapan tetap sopan, memperhatikan apa yang didengar agar tidak mempengaruhi hal negatif, memperbaiki cara berperilaku, serta membersihkan hati dari segala jenis dosa dan penyakit batin.

Tidak hanya itu, bungkus ketupat yang terbuat dari anyaman janur yang rumit adalah gambaran visual tentang perjalanan hidup manusia yang penuh naik turun, tantangan, dan kesalahan. Namun, ada makna yang indah saat kita memotong ketupat dan melepaskan kulit luarnya, yaitu melambangkan kekuatan berani melepaskan ego dan kesalahan masa lalu.

Kita siap menerima hal baru dengan hati yang bersih dan tulus, seperti butiran nasi yang membeku menjadi satu, membentuk ketupat yang putih sempurna.


Opor Ayam

Jika ketupat dianggap sebagai simbol untuk mengakui kesalahan atau berbicara jujur, maka hadirnya Opor Ayam adalah tambahan yang memperbaiki seluruh proses tersebut. Dalam budaya Nusantara, terutama dalam tradisi Jawa, istilah opor sering dikaitkan dengan suara atau bunyi kata "ngapura", yang artinya memohon maaf.

Secara filosofis, hidangan yang menggunakan banyak rempah dan bahan dasar santan ini mewakili semangat Ngapura ing Ngapuro, yaitu sebuah perbuatan yang mulia untuk saling memaafkan secara tulus dan ikhlas dari hati yang paling dalam.

Penggunaan santan yang lezat dan pekat dalam opor ayam memiliki makna simbolis yang khusus. Teksturnya yang pekat mencerminkan harapan akan kemakmuran dan menunjukkan keberkahan di hari kemenangan. Selain itu, kuah santan ini juga menjadi doa agar hubungan silaturahmi antara manusia yang sempat berjauhan bisa kembali dekat, menyatu, dan penuh berkah.

Makan opor ayam bersama keluarga saat lebaran Idul Fitri adalah kesempatan penting untuk melupakan masalah lama dan kembali mempererat tali persaudaraan dengan hati yang tulus.

Jadi, setiap suapan ketupat dan opor ayam adalah pengingat untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru yang bersih. Semoga momen Lebaran tahun ini tidak hanya membuat perut kenyang, tapi juga membuat hati terasa tenang dengan semangat Ngapura ing Ngapuro.

Artikel ditulis Dwi Puspa Handayani Berutu, peserta magang Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Meriahnya Lebaran Ketupat di Trenggalek Jawa Timur"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads