Longsoran lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh melambat pasca aliran air irigasi dialihkan. Jalan menuju lubang saat ini dipasang pagar pembatas.
Pantauan detikSumut, lubang sudah melewati jalan alternatif pertama dan mengenai sedikit kebun kopi warga. Di lokasi dipasang papan pengumuman zona merah serta pagar di dua titik.
Irigasi di samping jalan yang mengarah ke lubang saat ini dalam kondisi kering kerontang. Tak jauh dari lubang, tim Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membuat sumur bor di sejumlah titik dan airnya akan dipakai untuk dialirkan ke perkebunan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ada juga tempat penampungan air dibangun di bekas jalan lama yang berjarak ratusan meter dari longsoran lubang. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau sejumlah pekerjaan yang dilakukan untuk mencegah longsoran meluas.
Dody juga sempat melihat titik awal muncul lubang raksasa yang kini sudah ditumbuhi pepohonan. Pohon tumbuh di dalam serta di tebing lubang.
"Saluran yang ke arah lubang itu kan sudah kering sehingga harapannya memang lubang itu tidak bertambah lebar lagi karena kan suspek awal dari kemarin kan ada resapan air di bawah yang membuat kemudian lubang melebar," kata Dody kepada wartawan, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, longsoran di lubang itu sempat meluas empat meter perhari. Namun pasca dialihkan saluran air longsoran disebut melambat bahkan cenderung berhenti.
Kementerian PU disebut akan terus memantau dan menghitung longsoran setiap hari. Penanganan di lubang disebut akan dilakukan setelah kondisi tanahnya kuat.
"Sekarang kita lihat longsoran mulai berkurang. Mudah-mudahan dalam waktu singkat kita bisa benar-benar memberhentikan (longsoran) lubang itu 100%," jelas Dody.
Sebelumnya, lubang raksasa muncul di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah usai terjadi longsor dan sudah memutuskan jalan utama. Lubang itu diperkirakan mulai terbentuk sejak tahun 2000an.
"Tidak ada literasi pasti yang menjelaskan awal mula terbentuknya lubang. Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak tahun 2004," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah Andalika saat dimintai konfirmasi detikSumut, Kamis (15/1).
Berdasarkan laporan masyarakat, katanya, longsoran yang terjadi di lubang itu meluas sehingga memutuskan akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik pada tahun 2006. Sejak beberapa tahun lalu, Dinas ESDM Aceh telah melakukan penelitian sehingga diketahui pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun.
Menurutnya, data terbaru Dinas ESDM Aceh, luasan longsoran di lokasi telah mencapai 27.000 meter dan semakin dekat ke jalan lintas. Tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh juga disebut pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut bersama BPBD Aceh Tengah pada tahun 2022.
Hasil kajian yang dilakukan disebutkan longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah mengantarkan air. Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan.
"Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan," jelas Andalika.
(agse/dhm)











































