Pemerintah menyiapkan langkah darurat untuk mencegah lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah semakin meluas. Aliran air dari Bener Meriah yang mengarah ke lubang akan dialihkan.
"Salah satu solusi jangka pendek yang ditempuh adalah pengalihan aliran air dari wilayah hulu di Kampung Bener Ayu, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, yang selama ini menjadi salah satu faktor pemicu percepatan perluasan lubang," kata Bupati Aceh Tengah Haili Yoga dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Haili bersama tim Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sudah mengecek sumber air tersebut. Menurutnya, langkah pengalihan aliran air merupakan hasil kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk mengurangi tekanan air yang mengarah ke lokasi longsoran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah mengetahui sumber persoalannya dan hari ini kita tangani bersama sebagai langkah jangka pendek. Tujuannya agar aliran air tidak lagi memperparah kondisi longsoran di Pondok Balik, sekaligus memastikan kebutuhan air masyarakat di dua kabupaten tetap terpenuhi dengan baik" jelas mantan Pj Bupati Bener Meriah itu.
Kepala Satgas Percepatan Penanganan Dampak Bencana wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Arie Setiadi Moerwanto, menyebutkan, pengaturan aliran air akan dilakukan melalui perbaikan bendung dan pintu pengambilan air agar distribusi dapat dikendalikan secara optimal.
"Pertama kita akan perbaiki bendung dan pintu pengambilnya supaya airnya bisa diatur secukupnya. Jadi tidak ada yang dirugikan, tidak merusak lingkungan. pekerjaan secepatnya, kami sudah minta teman-teman membuat sketsanya dan bagaimana nanti biasanya," jelas Arie.
Sebelumnya, lubang raksasa muncul di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah usai terjadi longsor dan sudah memutuskan jalan utama. Lubang itu diperkirakan mulai terbentuk sejak tahun 2000an.
"Tidak ada literasi pasti yang menjelaskan awal mula terbentuknya lubang. Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak tahun 2004," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah Andalika saat dimintai konfirmasi detikSumut, Kamis (15/1).
Berdasarkan laporan masyarakat, katanya, longsoran yang terjadi di lubang itu meluas sehingga memutuskan akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik pada tahun 2006. Sejak beberapa tahun lalu, Dinas ESDM Aceh telah melakukan penelitian sehingga diketahui pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun.
Menurutnya, data terbaru Dinas ESDM Aceh, luasan longsoran di lokasi telah mencapai 27.000 meter dan semakin dekat ke jalan lintas. Tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh juga disebut pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut bersama BPBD Aceh Tengah pada tahun 2022.
Hasil kajian yang dilakukan disebutkan longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah mengantarkan air. Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan.
"Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan," jelas Andalika.
(agse/dhm)











































