Jauh sebelum Indonesia merdeka, Kota Pematangsiantar telah mengenal layanan air bersih yang dikelola secara terpusat. Layanan itu dijalankan oleh sebuah perusahaan kolonial bernama NV Ayer Bersih Maatschappij, yang mulai beroperasi sejak 1921.
Keberadaan perusahaan ini tercatat dalam buku Potret Simalungun Tempoe Doeloe: Menafsir Kebudayaan Lewat Foto. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa penyediaan air bersih menjadi bagian penting dari penataan kota Siantar pada masa kolonial Belanda. "Perusahaan air ini disebut NV Ayer Bersih Maatschappij," tulis Erond L. Damanik dalam bukunya.
Buku itu juga mencatat sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga. "Sumber air yang digunakan sebagai air bersih bagi warga kota saat itu berasal dari hulu Bah Bolon yang berada di Nagahuta," tulis Damanik. Daerah hulu sungai tersebut pada masa itu masih berupa kawasan hutan tropis, termasuk wilayah Bah na Lau (Aek Nauli).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menyalurkan air ke pusat kota, pemerintah kolonial membangun jaringan pipanisasi. "Pipanisasi dibangun sebagai saluran air ke Siantar," tulis buku tersebut. Teknologi ini menjadikan Siantar sebagai salah satu kota di Sumatra Timur yang relatif lebih awal memiliki sistem distribusi air bersih modern.
Foto arsip bertahun 1922 memperlihatkan bangunan NV Ayer Bersih Maatschappij di Siantar. Bangunan itu berfungsi sebagai tempat penampungan dan pengelolaan air sebelum disalurkan kepada masyarakat. Keberadaan fasilitas ini menunjukkan bahwa air bersih telah menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan kota, bukan sekadar kebutuhan rumah tangga.
Dalam buku yang sama dijelaskan bahwa pembangunan layanan air bersih sejalan dengan kebijakan pemerintah kolonial. "Hal ini sejalan dengan instruksi Gubernur Jenderal Belanda di Batavia yang mengharuskan pengadaan air bagi warga kota," tulis Erond L. Damanik. Selain jaringan air bersih, Pemerintah Kota Siantar pada masa itu juga membangun bak mandi umum yang diperuntukkan bagi masyarakat.
Kajian tentang kota-kota kolonial di Sumatra Timur menunjukkan bahwa penyediaan air bersih berkaitan erat dengan upaya peningkatan kesehatan dan pengendalian tata kota. Dalam artikel akademik mengenai pembentukan kota kolonial di Sumatra disebutkan bahwa "infrastruktur dasar seperti air bersih menjadi elemen penting dalam menciptakan kota yang sehat dan tertib menurut standar kolonial."
Perubahan besar terjadi setelah berakhirnya masa kolonial. Dalam Potret Simalungun Tempoe Doeloe dicatat bahwa pengelolaan perusahaan air tersebut kemudian beralih ke pemerintah kota. "Kini NV Ayer Bersih Maatschappij dikelola Pemko Siantar yang disebut PDAM Tirta Uli Pematangsiantar," tulis Damanik.
Keberadaan perusahaan air bersih ini juga berkaitan dengan berkembangnya sistem administrasi kota. Buku tersebut mencatat bahwa pada masa kolonial, Kota Siantar memiliki kantor-kantor yang menangani pendataan penduduk, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. "Dari kantor ini pulalah muncul kebijakan-kebijakan pemerintah kota guna mengembangkan kebijakan populis di kota Siantar," tulis Damanik.
Jejak NV Ayer Bersih Maatschappij menunjukkan bahwa air bersih bukan sekadar fasilitas teknis, tetapi bagian dari proses panjang pembentukan Kota Siantar. Dari sebuah perusahaan kolonial pada awal abad ke-20, layanan ini kemudian berkembang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat hingga kini, melalui PDAM Tirta Uli yang masih melayani warga kota.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Krisis Air Bersih di Kadujajar, 2 Km Ditempuh Demi Setetes Air Bersih"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
