Kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi kian memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemprov Jambi menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk opsi meliburkan sekolah jika kondisi udara semakin tidak sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jambi Arief Munandar mengatakan Gubernur Jambi Al Haris akan segera menerbitkan surat edaran untuk mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah.
"Pak gubernur akan segera membuat SE imbauan masyarakat untuk tidak keluar rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah," kata Arief kepada wartawan, Senin (24/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief mengatakan kebijakan terhadap kegiatan belajar mengajar akan melihat perkembangan kualitas udara. Jika ISPU terus meningkat dan kondisi udara dinilai membahayakan, sekolah dapat diliburkan sementara.
"Nanti kalau sudah sangat tidak baik, salah satunya bisa jadi sekolah diliburkan. Tapi tergantung pada kondisi kualitas udara, dan juga bagaimana nanti masukan dari instansi terkait," ujarnya.
Kondisi udara Kota Jambi mengalami perubahan cukup cepat. Pada Minggu (23/8) pagi, kualitas udara masih berada dalam kategori sedang. Namun sekitar pukul 15.00 WIB, kualitas udara berubah menjadi tidak sehat.
Kondisi tersebut kembali memburuk pada Senin pagi. Pemantauan ISPU menunjukkan kualitas udara Kota Jambi telah masuk kategori sangat tidak sehat.
"Tadi pagi tambah sedikit buruk untuk kualitas udara Kota Jambi," katanya.
Muaro Jambi menjadi wilayah yang kondisinya lebih mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, kualitas udara di daerah tersebut telah berada dalam kategori tidak sehat. Sementara Tanjung Jabung Timur mulai mengalami penurunan kualitas udara.
"Tanjung Jabung Timur mulai memburuk, dan Kabupaten Tebo sementara kualitas udara menunjukkan berada dalam kategori bagus," jelas Arief.
Berdasarkan pantauan ISPUnet pada Senin (24/8) pukul 09.12 WIB, parameter PM2,5 di Kota Jambi mencapai angka 207 atau kategori sangat tidak sehat. Sementara Muaro Jambi mencapai 314 atau kategori berbahaya.
Memburuknya kualitas udara terjadi di tengah meningkatnya luasan karhutla di Jambi. BPBD Provinsi Jambi mencatat total lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 19 Agustus 2026 mencapai 658,29 hektare.
Muaro Jambi menjadi daerah dengan luasan terbakar terbesar, yakni 264,78 hektare. Disusul Sarolangun 143,61 hektare, Batanghari 95,35 hektare, Tanjung Jabung Barat 58,1 hektare, Tebo 39,26 hektare, Tanjung Jabung Timur 32,71 hektare, Bungo 14 hektare, dan Merangin 10,3 hektare.
"Pemprov Jambi kini memantau perkembangan kualitas udara sebelum menentukan kebijakan lebih lanjut untuk melindungi masyarakat dari dampak kabut asap," tukasnya.
