Dugaan beras fortifikasi yang tidak sesuai dengan klaim gizi pada label kemasan menjadi isu hangat di pertengah September 2026. Pemerintah menindaktegas produsen yang melakukan hal tersebut. Lalu, apa itu beras fortifikasi?
Istilah fortifikasi bagi kalangan awam masih kurang familiar. Banyak yang membeli beras hanya berdasarkan pada merek tertentu dan tidak memahami kandungan di dalamnya.
Nah, untuk mengetahui arti dari beras fortifikasi dapat menyimak rangkuman di bawah ini. Ketahui juga merek yang bermasalah. Simak!
Apa itu Beras Fortifikasi
Dilansir laman Direktorat Intelijen Obat dan Makanan, Fortifikasi merupakan salah satu program penanganan kesehatan masyarakat yang direkomendasikan untuk mencegah dan mengontrol kekurangan zat gizi mikro. Tujuannya yakni untuk meningkatkan kualitas gizi makanan dengan cara menambahkan vitamin dan mineral tertentu ke dalam bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Menurut World Health Organization (WHO), fortifikasi termasuk salah satu strategi paling efektif dan hemat biaya untuk mencegah kekurangan zat gizi mikri di masyarakat, seperti zat besi, yodium, vitamin A, dan asam folat masih menjadi masalah kesehatan di banyak negara berkembang.
Zat gizi yang ditambahkan pada beras berupa zat besi, Selenium, Seng, vitamin B1, B3, B6, B9, B12, dan vitamin E, sebagaimana rekomendasi dari WHO. Adanya penambahan zat gizi tersebut, harga besar fortifikasi relatif cukup tinggi.
Padahal, salah satu syarat penting dari fortifikasi pangan adalah tidak boleh terjadi perbedaan harga yang mencolok antara beras biasa dan beras fortifikasi. Selain itu, dugaan beras fortifikasi yang tidak sesuai klaim menjadi masalah yang sedang diselesaikan pemerintah.
Simak Video "Video: Zulhas Pastikan Impor 1.000 Ton Beras dari AS Hanya untuk Beras Khusus"
(mep/mep)